Mata Air Bulan

Author: Sindhunata

Summary

tabah dan bertahan dalam keadaan yang menurut perkiraan manusia tidak masuk akal, itulah iman

Buku ini berisi kisah-kisah nyata yang berujung dengan terwujudnya sebuah sumur kecil di gereja desa di lereng Gunung Merapi yang sejuk. Dengan kisah-kisah itu kita diajak untuk berjumpa dengan perempuan-perempuan desa sederhana yang memberi kenyataan batin tak terkira. Kita diajak ikut mengalami peziarahan ke mata air-mata air untuk menemukan air penghidupan. Kisah-kisah yang bisa membangkitkan harapan, membantu kita menjadi tabah, kuat, dan tangguh, di tengah kesusahan, penderitaan, dan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga diajak membuka mata, bahwa kesederhanaan ternyata adalah mata air sejati bagi kebahagiaan dan ketenteraman hati. Kisah-kisah itu juga menuturkan tentang pengalaman iman, bahwa Tuhan ternyata dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yang rutin, biasa, sepele dan tak berarti. Betapa Tuhan tidak berada jauh di atas kita tapi tinggal bersama kita dan ada dalam setiap kesedihan, kesusahan, dan persoalan hidup, juga dalam kegembiraan dan rasa syukur. Kita bisa merasakan, bahwa cuaca, suasana alam, bulan, gunung, sungai, air, hujan, tumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan, bahkan binatang seperti ikan, kupu-kupu, kodok dan ayam pun bisa memberi kita harapan dan penghiburan yang menguatkan peziarahan hidup kita. Mata Air Bulan yang ditulis dengan indah oleh Sindhunata ini penuh dengan nilai-nilai universal yang dapat dipetik oleh semua pembaca dari pelbagai kalangan.

Tags

No. GM : 620221052
ISBN : 978-602-06-2273-6
Price : Rp 85.000
Total Pages : 228 Pages
Size : 14x21 cm
Date Published : 20 Juli 2020
Book Format : Soft Cover
Category : Poetry

    No reviews

Sindhunata

Sindhunata

Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, SJ, amat dikenal karena karya sastranya yang telah menjadi klasik, Anak Bajang Menggiring Angin. Penulis yang dilahirkan 12 Mei 1952 di Kota Batu, Jawa Timur ini juga amat dikenal karena features-nya tentang kemanusiaan dan kolomnya tentang sepak bola dunia di Harian Kompas, Jakarta. Sekarang ia adalah Penanggung Jawab/ Pemimpin Redaksi Majalah BASIS, Yogyakarta. Karier jurnalistiknya dimulai dengan bekerja sebagai wartawan Majalah Teruna, terbitan PN Balai Pustaka, Jakarta, 1974-1977. Mulai tahun 1977, ia menjadi wartawan di Harian Kompas, Jakarta.

Sindhunata tamat dari Seminarium Marianum, Lawang, Malang, tahun 1970. Tahun 1980, ia selesai dengan studi sarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Kemudian ia menyelesaikan studi teologi di Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta (1983). Ia melanjutkan studi doktoral filsafat di Hochschule f?r Philosophie, Philosophische Fakult?t SJ M?nchen, Jerman 1986-1992.

Ia telah menulis buku ilmiah: Dilema Usaha Manusia Rasional, Hoffen auf den Ratu Adil–Das eschatologische Motiv des ”Gerechten K?nigs” im Bauernprotest auf Java w?hrend des 19und zu Beginn des 20 Jahrhunderts (Menanti Ratu Adil–Motif Eskatologis dari Ratu Adil dalam Protes Petani di Jawa Abad ke-19 dan awal Abad ke-20), Sakitnya Melahirkan Demokrasi (1999), dan Kambing Hitam, Teori Ren? Girard (2006). Telah terbit juga buku-buku features-nya: Cikar Bobrok dan Bayang-bayang Ratu Adil. Sindhunata juga menulis buku dalam bahasa Jawa: Aburing Kupu-Kupu Kuning, Ndh?r?k Sang D?wi ing ?r?ng-?r?nging Redi Merapi, Sumur Kitiran Kencana, dan Nggayuh Gesang Tentrem. Ia juga menjadi pengisi rubrik bahasa Jawa ”Blencong” di Harian Suara Merdeka, Semarang.

Selain Anak Bajang Menggiring Angin, beberapa karya sastranya adalah: Air Penghidupan, Semar Mencari Raga, Mata Air Bulan, Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga dan Telegram Duka. Kumpulan puisinya telah diterbitkan dalam buku Air Kata Kata (2003). Penulis rubrik ”Tanda Tanda Zaman” di Majalah BASIS ini juga telah menerbitkan buku tentang ilmu tertawa yang berangkat dari dagelan ludruk, Ilmu Ngglethek Prabu Minohek (2004) dan buku tentang filsafat slebor becak yang berjudul Waton Urip (2005). Telah terbit trilogi catatan sepak bolanya: Air Mata Bola, Bola di Balik Bulan, dan Bola-Bola Nasib (2002). Tahun 2006, features-features-nya yang dipilih dari Harian Kompas diterbitkan serentak dalam lima buku: Dari Pulau Buru ke Venezia, Segelas Beras Untuk Berdua, Ekonomi Kerbau Bingung, Petruk Jadi Guru, dan Burung-burung di Bundaran HI. Tahun 2007, penulis meluncurkan Putri Cina. Di samping menulis buku, ia menjadi editor beberapa buku ilmiah dan buku features.

Books by Sindhunata

  • Mata Air Bulan
    Poetry

    Mata Air Bulan

     
  • Air Kata Kata
    Poetry

    Air Kata Kata

     
  • More +

Nobody commented

Related Books

Tak ada gabungan yang lebih menarik dari puisi dan fiksi.
Temukan buku lainnya yang tak kalah menarik.