• Resensi Pilihan: Ready Player One

    Ditulis oleh Fahri fauzi Rasihan di https://m.facebook.com/notes/fahri-fauzi-rasihan/ready-player-one-karya-ernest-cline/1869600099730961/ untuk program #ResensiPilihan di Twitter @bukugpu

    Blurb

    Pada tahun 2045, realitas adalah tempat yang buruk. Wade Watts hanya merasa sepenuhnya hidup saat masuk ke dunia utopia virtual yang dikenal sebagai OASIS. Wade membaktikan hidupnya untuk mempelajari teka-teki tersembunyi dalam dunia virtual tersebut. Teka-teki yang berasal dari James Halliday, sang pencipta OASIS, tempat Halliday menyembunyikan harta peninggalannya yang paling berharga dalam obsesinya terhadap budaya pop dan permainan video tahun 1980-an.
    Saat Wade menemukan petunjuk pertama, seluruh dunia mengejarnya, karena banyak orang yang rela membunuh demi menemukan rahasia tempat Halliday menyembunyikan hartanya. Dan sejak itu dimulailah perburuan yang sesungguhnya. Bagi Wade, ini bukan sekadar Perburuan, tapi bagaimana dia bisa menyelamatkan dunia virtual tempatnya berlindung, dan pada saat yang sama berusaha menyelamatkan orang-orang yang dicintainya di dunia nyata. Satu-satunya cara bagi Wade untuk bisa melakukannya adalah dengan memenangi Perburuan itu.
     
    “Kaupikir kau bisa dengan mudahnya menulis cek sebesar dua ratus empat puluh miliar dolar dan memperbaiki seluruh masalah dunia?” (hal. 150)
     

    Review

    Di tahun 2045 minyak bumi telah habis, kemiskinan dan kelaparan merajalela, serta kehidupan di bumi sudah kacau balau. Namun untungnya ada OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation) yang bisa membuat semua orang lari dari kenyataan hidup. Kehidupan virtual yang diberikan oleh konsol OASIS memberikan dunia yang lebih luas, imajinatif, dan menyenangkan. Apalagi seluruh masyarakat dunia bisa mengaksesnya secara gratis. Setelah meninggalnya salah satu pencipta OASIS, James Halliday, terdapat wasiat yang berisi bahwa seluruh kekayaannya akan diberikan kepada siapa pun yang bisa menemukan ‘Easter Egg’ di dalam OASIS. Petunjuk untuk menemukan ‘Easter Egg’ tersebut terdapat dalam Almanak Anorak yang diberikan oleh Halliday. Di mana setiap avatar dalam OASIS merasa tertantang untuk menemukan ‘Easter Egg’ tersebut.
     
    Kehidupan seorang Wade Watts bisa dibilang buruk. Dia harus tinggal di tumpukan trailer bersama bibinya yang jahat. Namun, Wade lebih banyak menghabiskan waktunya---mulai dari sekolah hingga aktivitas lainnya---di dalam OASIS. Ini merupakan cara Wade dalam menghadapi kenyataan hidup, karena selain harus menghadapi bibinya, dia juga tidak terbiasa untuk bersosialisasi di dunia nyata. Setelah mendengar kabar meninggalnya Halliday, Wade sendiri merasa tertarik untuk mencari ‘Easter Egg’. Akan tetapi setelah hampir lima tahun berlalu belum ada yang berhasil memecahkan petunjuk pertama dari Almanak Anorak. Hingga suatu hari secara tidak sengaja Wade berhasil memecahkannya pada saat mengikuti kelas Bahasa Latin. Melalui petunjuk pertama itu Wade alias Parzival bertemu dengan Art3mis secara tidak sengaja. Sedikit demi sedikit makin banyak gunter yang berhasil memecahkan petunjuk pertama. Para gunter tersebut adalah Parzival, Art3mis, Aech, Shoto, dan Daito yang berhasil masuk dalam lima besar. Kabar ini pun sampai di telinga para sixer yang tidak segan-segan untuk membunuh lima gunter tersebut agar bisa menemukan ‘Easter Egg’. Akankah Wade alias Parzival bisa menemukan ‘Easter Egg’ tersebut? Bisakah mereka semua selamata dari ancaman para sixer?
     
    Kau tahu sudah menghancurkan hidupmu saat seluruh duniamu berantakan dan satu-satunya yang bisa kauajak bicara adalah agen sistem peranti lunakmu. (hal. 347)
     
    Sebelum film Ready Player One tayang di bioskop, akhirnya buku ini bisa terbit juga di Indonesia. Sudah banyak sekali review positif tentang buku ini. Bagi yang tumbuh dan besar di era tahun 1980-an mungkin akan sangat menikmati buku ini. Alasannya adalah karena terdapat banyak sekali budaya pop pada era 1980-an yang dibahas dalam buku ini. Mulai dari musik, film, hingga game. Jujur saja saya sendiri lumayan bingung dengan beberapa budaya pop tersebut karena saya belum lahir pada era 1980-an. Namun, Ready Player One masih bisa dinikmati oleh semua kalangan karena Cline memberikan cerita yang seru dan epik. Saya juga sangat menyukai kover buku versi Bahasa Indonesia-nya. Kover bukunya terlihat klasik dan sangat menggambarkan isi ceritanya. Terlihat seseorang yang menggunakan kacamata VR dengan pantulan pemandangan trailer tumpuk tempat Wade tinggal. Selain itu nuansa dan gambarnya pun terkesan klasik seperti serial kartun tahun 1980-an. Semua unsur yang ada dalam ceritanya sangat terwakili melalui kover buku hasil karya Sukutangan ini.
     
    Dengan mengangkat tema dunia virtual, Ready Player One berhasil mengajak para pembacanya untuk bernostalgia kembali ke era 1980-an. Meskipun banyak budaya pop yang terdengar asing bagi saya, tapi ada beberapa diantaranya yang saya tahu, seperti Pac Man dan Ultraman. Ketika membaca Ready Player One saya juga sering sekali browsing untuk mencari informasi tentang budaya pop yang ada dalam buku ini. Tidak jarang saya pun ikut bernostalgia mengingat banyak sekali game pada mesin dingdong yang dibahas. Karena saya sendiri sempat tumbuh bersama game-game dari mesin dingdong. Ceritanya sendiri sebenarnya terbilang sederhana, tapi penulis berhasil mengemasnya secara cerdas melalui beberapa budaya pop di era 1980-an. Ini juga merupakan pengalaman pertama saya membaca cerita dengan tema dunia virtual yang imajinatif.
     
    Tokoh utama dalam novel ini adalah Wade Watts atau Parzival dalam OASIS. Wade bisa dibilang sebagai remaja yang cerdas, tapi tidak suka bersosialisasi di dunia nyata. Dia lebih senang menjelajah dan berinteraksi di dalam OASIS. Akibat keadaan lingkungannya yang buruk membuat Wade lebih banyak menghabiskan waktunya dalam OASIS. Meskipun Parzival bisa dibilang avatar dengan level rendah, tapi Wade tetap bertekad untuk menemukan Easter Egg. Selain itu juga ada tokoh Art3mis yang cerdik, Aech yang ceria, dan Shoto yang yang setia kawan. Keempat tokoh ini harus berpacu dengan waktu untuk menemukan Easter Egg sebelum para sixer menemukannya terlebih dahulu. Penggambaran para tokohnya bisa dibilang sangat baik dengan latar belakang yang cukup kuat. Latar belakang setiap tokoh memang tidak secara mendetail diceritakan, tapi interaksi dan chemistry antara setiap tokohnya sangat terasa. Apalagi tokoh Parzival dan Aech yang diceritakan bersahabat dekat. Selain itu unsur romance dalam ceritanya pun tidak terlalu berlebihan dan terasa pas porsinya.
     
    Alu ceritanya berjalan dengan cukup lambat, karena penulis sepertinya ingin memberikan detail yang jelas untuk setiap hal yang ada dalam OASIS. Ready Player One lebih banyak berisi narasi yang deskriptif daripada dialog-dialog antar tokohnya. Saya sangat terbantu dengan narasi ini untuk memudahkan saya agar bisa lebih memahami segala sesuatunya. Gaya bahasa penulis terbilang deskriptif dan jelas. Meskipun banyak sekali unsur budaya pop yang dimasukkan, tapi penulis bisa menjelaskan itu semua dengan jelas dan lugas. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama melalui tokoh Wade Watts. Dengan sudut pandang ini saya pun ikut merasakan sensasi yang Wade alami selama berada dalam OASIS. Hasil terjemahannya juga sangat baik dan jelas dengan lemilihan kata yang pas dan sesuai. Namun sayangnya masih cukup banyak typo yang saya temukan yang lumayan mengganggu.
     
    Konflik dalam Ready Player One baru terasa saat mencapai pertengahan cerita. Di mana aksi Parzival untuk menemukan Easter Egg mulai diganggu oleh para sixer IOI. Parzival harus menghadapi berbagai kecurangan yang dilakukan oleh para sixer tersebut. Tak hanya Parzival saja yang harus menghadapi para sixer, tapi Art3mis, Aech, Shoto, dan para gunter lainnya pun bernasib sama. Penyelesaian konfliknya terbilang baik dan memuaskan dengan adegan pertarungan yang epik dan menegangkan. Apalagi ada beberapa simulasi yang membuat saya penasaran seperti apa kira-kira film dan game yang ditaklukan oleh Parzival. Saya sendiri sangat menikmati konfliknya yang menggemaskan serta menegangkan untuk diikuti. Penulis sukses memberikan sebuah konflik yang epik sambil mengajak para pembacanya untuk kembali bernostalgia.
     
    Ini merupakan pengalaman baru bagi saya dalam menikmati cerita sci-fi. Di mana dunia masa depan yang digambarkan oleh Ernest Cline tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita sekarang. Penulis seperti menyindir realita yang ada di mana dunia maya lebih menyenangkan daripada dunia nyata. Mungkin banyak di antara kita yang merasa mulai jauh dengan lingkungan sekitar dan lebih asik berinteraksi di sosial media. Ready Player One menggambarkan hal itu melalui dunia virtual yang menghipnotis dan menjadi candu untuk masyarakat. Selain itu unsur budaya pop era 1980-an juga menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri dalam novel ini. Meskipun tak jarang saya merasa kebingungan dengan budaya-budaya pop tersebut, tapi saya sangat menikmatinya karena selain terhibur, saya juga mendapatkan wawasan baru. Gaya berceritanya yang deskriptif juga tidak jarang sedikit membosankan dan ada beberapa hal dalam dunia OASIS yang sulit untuk saya bayangkan. Namun sscara keseluruhan, Ready Player One sukses mengajak para pembacanya untuk mengikuti petualangan para tokohnya dalam dunia OASIS melalui unsur budaya pop era 1980-an. Sebuah cerita yang epik penuh nostalgia.
     
    Judul : Ready Player One | Penulis : Ernest Cline | ISBN : 978-602-03-8277-7 | Tebal : 544 Halaman | Terbit : 26 Maret 2018

    03 Apr, 2018