• Resensi Pilihan: Kekuatan Memaafkan

    Ditulis oleh Ade Delina Putri di https://delinabook.wordpress.com/2018/03/20/kekuatan-memaafkan-memaafkan-untuk-diri-kita-sendiri/ untuk program #ResensiPilihan di Twitter @bukugpu

    Sebelum lebih lebar, saya mau kasih tahu langsung kalau saya SANGAT AMAT RELA memberikan 5 BINTANG untuk buku ini! Bahkan kalau ada bintang 10, udah saya kasih kali haha. *Lebay amat lu, De!* Biarin  Soalnya saya yakin banget buku ini dibutuhkan banyak orang deh! Jadi better coba langsung baca sendiri, dan rasakan efeknya *ini kok kayak iklan?

    “Hidup ini hanya sekilas. Kita perlu HIDUP dan MENCINTAI di saat ini!” (hlm. xvii)

    Chicken Soup, kisah-kisah yang menggugah

    Sudah tidak diragukan bahwa kisah-kisah Chicken Soup for the Soul memang selalu menggugah. Meskipun saya sendiri belum pernah baca buku dengan tema lainnya, tapi saya yakin buku Chicken Soup memang selalu punya pesona sendiri.

    Seri Kekuatan Memaafkan ini misalnya. Ada 101 kisah yang dibagikan tentang bagaimana penulis-penulis di buku ini bisa berdamai dengan diri sendiri, menghilangkan kepedihan, menyelesaikan pertengkaran, kalah untuk menang, dan ikhlas untuk memaafkan orang-orang di sekitarnya. Hingga pada akhirnya mereka bisa menerima luka lama, dan menjalani hidupnya dengan lebih bebas.

    Tidak memaafkan = membawa beban yang berat sendiri

    berkubang di dalam dendam hanya akan menghapus kemampuan seseorang untuk berfungsi dengan cara yang sehat. Tidak seperti papan tombol komputer, hidup kita tidak memiliki tombol “batalkan”. (hlm. 133)

    Ya, kita mungkin pernah menyakiti, dan dengan mudahnya bisa bilang “Maaf.” Tapi ketika kita disakiti, apakah mudah untuk memaafkan? Jawabannya ada pada diri dan hati kita masing-masing. Maka untuk itulah buku ini hadir. Sesakit-sakit apapun kita dilukai, ketika kita tidak bisa memaafkan, maka hanya kita sendirilah yang dirugikan. Kita hidup dengan membawa beban yang berat. Beban yang kita ciptakan dan kita pikul sendiri. Tapi jika kita bisa memaafkan, maka hidup kita menjadi jauh lebih ringan. Karena yang kita fokuskan hanyalah masa depan.

    Perjalanan memaafkan memang tidak mudah. Sebagian besar kisah penulis-penulis di buku ini pun butuh waktu lama bahkan puluhan tahun sampai akhirnya mereka bisa memaafkan. Ketika mereka merenung, dimotivasi oleh orang-orang baik di sekitarnya,  dan memohon dengan berdoa pada Tuhan, mereka perlahan-perlahan mulai bisa melepaskan beban-beban luka masa lalu.

    “… Kau harus memutuskan bahwa permintaan maaf tidaklah diperlukan. Mungkin kau tidak akan pernah mendapatkannya, dan jika kau terus menunggu untuk sesuatu yang tidak pernah datang, kau tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup.” (hlm. 191)

    Memaafkan sejatinya untuk diri kita sendiri

    So, buku ini memang sangat direkomendasikan khususnya bagi orang-orang yang masih punya luka-luka lama yang tertahan dan dirasa mengganggu. Sebab jika kita masih terus membawa luka itu, hidup kita akan terasa berat. Tapi jika kita mau membuka hati sedikit saja untuk menerima perlakuan orang yang menyakiti kita, mengikhlaskan segala luka yang sudah kita terima, maka di situlah kita bisa memaafkan.

    “Hadiah yang kau butuhkan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan oleh orang lain. Ini adalah hadiah yang harus kauberikan kepada dirimu sendiri. Ini adalah hadiah memaafkan.”

    Karena sesungguhnya, memaafkan itu bukan untuk orang yang melukai kita, bukan untuk mencintai orang yang telah melukai kita, bukan untuk bersahabat dengan orang yang melukai kita, tapi semata untuk diri kita sendiri. Agar jalan hidup ke depannya menjadi lebih terang

    Memaafkan itu seperti ini: sebuah ruangan bisa menjadi gelap karena kau telah menutup jendela, kau telah menutup tirai. Tetapi di luar matahari sedang bersinar, di luar udara sangat segar. Untuk mendapatkan udara segar itu, kau harus bangun, lalu membuka jendela dan membuka tirai. – Desmond Tutu (hlm. 1)

    27 Mar, 2018