Keluarga Cemara : Bunga Pengantin

Keluarga Cemara : Bunga Pengantin

Author: Arswendo Atmowiloto

Category: Classic Books

Salah satu permainan yang mengasyikkan adalah \"menjadi pengantin\". Teman-teman memberikan bunga sebagai kado. Pemberi yang terbagus, bergantian menjadi pengantin. Agil protes ketika bunga pisang temannya ditolak. Bunga pisang dianggap bunga bunga. Ara juga begitu, ia mempertanyakan saat puisi karya Aik dianggap tidak memenuhi syarat dan tak dinilai, karena tak memakai kata \"desa\".

Euis sebenarnya menang dalam lomba menyanyi, tapi karena Euis bukan peserta kursus, ia dikalahkan. Perbedaan kadang tidak diterima sebagai perbedaan, melainkan sebagai salah dan benar, sebagai menang dan kalah. Bukankah sebenarnya tak ada gunanya mempersoalkan baju pengantin daerah mana yang lebih bagus dari daerah lain? Itulah yang dialami anak-anak Abah, yang tabah.

Tidak berarti mengalah, karena mereka masih menemukan persahabatan dengan tukang bakso, yang bersedia tukar tambah dengan opak. Hidup memang penuh pesona bagi hati yang terbuka tanpa prasangka. Hati anak-anak.

No. GM :
0
ISBN :
979-686-471-1
Price :
Rp 10,000
Total Pages :
0 pages
Size :
11 x 18
Published :
01 January 2001
Format :
Softcover
Category :
Classic Books
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Arswendo Atmowiloto

ARSWENDO ATMOWILOTO lahir di Solo, 26 November 1948. Ia mulai menulis dalam bahasa Jawa. Sampai kini karyanya yang telah diterbitkan sudah puluhan judul. Ia sudah belasan kali pula memenangi sayembara penulisan, memenangkan sedikitnya dua kali Hadiah Buku Nasional, dan mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat nasional maupun tingkat ASEAN. Tahun 1979 ia mengikuti program penulisan kreatif di University of Iowa, Iowa City, USA. Dalam karier jurnalistik, ia sempat memimpin tabloid Monitor, sebelum terpaksa menghuni penjara (1990) selama lima tahun.
Pengalamannya dalam penjara telah melahirkan sejumlah noveltermasuk Projo dan Brojo ini, buku-buku rohani, puluhan artikel, dan catatan lucu-haru, Menghitung Hari. Judul tersebut telah disinetronkan dan memperoleh penghargaan utama dalam Festival Sinetron Indonesia, 1995. Tahun berikutnya, sinetron lain yang ditulisnya, Vonis Kepagian, juga memperoleh penghargaan serupa.
Dunia pertelevisian memang sudah menarik perhatiannya sejak ia memimpin tabloid Monitor. Karya-karyanya yang pernah terkenal seperti Kiki, Imung, Keluarga Cemara, Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Canting diangkat sebagai drama serial di televisi. Ia juga menulis buku Telaah tentang Televisi serta Mengarang Itu Gampang dan Mengarang Novel Itu Gampang yang belasan kali cetak ulang.
Ia kini masih tetap menulis skenario dan novel, sering tampil dalam seminar dan diundang ceramah, serta memproduksi sinetron dan film, termasuk film Anak-Anak Borobudur (2007). Selain buku, televisi, dan film, ia mengaku menyukai komik dan humor, dan sangat tertarik untuk terlibat dalam dunia anak-anak.
Ia tinggal di Jakarta dengan istri yang itu-itu juga, tiga anak yang
sudah dewasa dan berkeluarga, lima cucu, ratusan lukisan \\\\\\\"kapas berwarna\\\\\\\" yang dibuatnya waktu di penjara, seperti juga sandal tato.
\\\\\\\"Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini mendekati benar, karena
kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya
menulis.\\\\\\\"