Keluarga Cemara : Becak Emak

Keluarga Cemara : Becak Emak

Author: Arswendo Atmowiloto

Category: Classic Books

Becak Abah ditahan. Padahal surat-suratnya lengkap, juga tidak membuat kesalahan. Tapi Abah tak mau protes, tidak ingin demo, seperti yang diminta teman-temannya. Abah lebih suka becaknya keluar sesuai prosedur.

Tapi Emak tak bisa tinggal diam. Emak datang ke kantor polisi dan mengambilnya. Bahkan Emak sendiri yang menggenjotnya.
Diikuti orang-orang yang bersorak dan berseru kegirangan.

Buat orang lain mungkin ini sensasi. Mencari cara untuk menjadi populer. Tapi bagi Emak, ini persoalan kehidupan keluarga. Becak adalah napas mereka. Satu-satunya sumber pencaharian. Dan Emak tak mau mengalah.
Dia tak rela becak mereka ditahan.

No. GM :
0
ISBN :
979-686-470-3
Price :
Rp 10,000
Total Pages :
0 pages
Size :
11 x 18
Published :
01 January 2001
Format :
Softcover
Category :
Classic Books
Tags
Novia Novia
Novia Novia
1 year ago
Bagusss
Arswendo Atmowiloto

ARSWENDO ATMOWILOTO lahir di Solo, 26 November 1948. Ia mulai menulis dalam bahasa Jawa. Sampai kini karyanya yang telah diterbitkan sudah puluhan judul. Ia sudah belasan kali pula memenangi sayembara penulisan, memenangkan sedikitnya dua kali Hadiah Buku Nasional, dan mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat nasional maupun tingkat ASEAN. Tahun 1979 ia mengikuti program penulisan kreatif di University of Iowa, Iowa City, USA. Dalam karier jurnalistik, ia sempat memimpin tabloid Monitor, sebelum terpaksa menghuni penjara (1990) selama lima tahun.
Pengalamannya dalam penjara telah melahirkan sejumlah noveltermasuk Projo dan Brojo ini, buku-buku rohani, puluhan artikel, dan catatan lucu-haru, Menghitung Hari. Judul tersebut telah disinetronkan dan memperoleh penghargaan utama dalam Festival Sinetron Indonesia, 1995. Tahun berikutnya, sinetron lain yang ditulisnya, Vonis Kepagian, juga memperoleh penghargaan serupa.
Dunia pertelevisian memang sudah menarik perhatiannya sejak ia memimpin tabloid Monitor. Karya-karyanya yang pernah terkenal seperti Kiki, Imung, Keluarga Cemara, Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Canting diangkat sebagai drama serial di televisi. Ia juga menulis buku Telaah tentang Televisi serta Mengarang Itu Gampang dan Mengarang Novel Itu Gampang yang belasan kali cetak ulang.
Ia kini masih tetap menulis skenario dan novel, sering tampil dalam seminar dan diundang ceramah, serta memproduksi sinetron dan film, termasuk film Anak-Anak Borobudur (2007). Selain buku, televisi, dan film, ia mengaku menyukai komik dan humor, dan sangat tertarik untuk terlibat dalam dunia anak-anak.
Ia tinggal di Jakarta dengan istri yang itu-itu juga, tiga anak yang
sudah dewasa dan berkeluarga, lima cucu, ratusan lukisan \\\\\\\"kapas berwarna\\\\\\\" yang dibuatnya waktu di penjara, seperti juga sandal tato.
\\\\\\\"Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini mendekati benar, karena
kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya
menulis.\\\\\\\"