Keluarga Cemara : Tempat Minum Plastik dari Toko

Keluarga Cemara : Tempat Minum Plastik dari Toko

Author: Arswendo Atmowiloto

Category: Classic Books

Tempat minum plastik, menjadi daya tarik bagi anak-anak yang bersekolah. Apalagi Ara melihat teman-teman sekelasnya memakai itu.

Ia juga berharap memiliki, bahkan tempat minum plastik bekas pun cukup membuat bangga. Euis mendukung dan membantu dalam keuangan, sementara Agil membantu dengan doa. Kalau kamudian tempat minum impian itu di tangan dan lepas kembali, adakah yang perlu disesali?

Tempat minum plastik buat Heli, anjing betina yang biasa-biasa saja jenisnya, seperti juga sepatu. Seperti juga sebuah kamar. Seperti juga sebuah kamar. Seperti juga pesta di depan toko kue, seperti cerita bahagia Pendeta Eka, bahwa Tuhan memberikan es krim. Bagi Abah dan Ema, agaknya kebahagiaan adalah saat ketika berupaya meraihnya, bukan ketika menggenggamnya. Karena nasib baik belum mau melirik mereka.

No. GM :
0
ISBN :
979-655-470-4
Price :
Rp 7,000
Total Pages :
0 pages
Size :
11 x 18
Published :
01 January 1999
Format :
Softcover
Category :
Classic Books
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Arswendo Atmowiloto

ARSWENDO ATMOWILOTO lahir di Solo, 26 November 1948. Ia mulai menulis dalam bahasa Jawa. Sampai kini karyanya yang telah diterbitkan sudah puluhan judul. Ia sudah belasan kali pula memenangi sayembara penulisan, memenangkan sedikitnya dua kali Hadiah Buku Nasional, dan mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat nasional maupun tingkat ASEAN. Tahun 1979 ia mengikuti program penulisan kreatif di University of Iowa, Iowa City, USA. Dalam karier jurnalistik, ia sempat memimpin tabloid Monitor, sebelum terpaksa menghuni penjara (1990) selama lima tahun.
Pengalamannya dalam penjara telah melahirkan sejumlah noveltermasuk Projo dan Brojo ini, buku-buku rohani, puluhan artikel, dan catatan lucu-haru, Menghitung Hari. Judul tersebut telah disinetronkan dan memperoleh penghargaan utama dalam Festival Sinetron Indonesia, 1995. Tahun berikutnya, sinetron lain yang ditulisnya, Vonis Kepagian, juga memperoleh penghargaan serupa.
Dunia pertelevisian memang sudah menarik perhatiannya sejak ia memimpin tabloid Monitor. Karya-karyanya yang pernah terkenal seperti Kiki, Imung, Keluarga Cemara, Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Canting diangkat sebagai drama serial di televisi. Ia juga menulis buku Telaah tentang Televisi serta Mengarang Itu Gampang dan Mengarang Novel Itu Gampang yang belasan kali cetak ulang.
Ia kini masih tetap menulis skenario dan novel, sering tampil dalam seminar dan diundang ceramah, serta memproduksi sinetron dan film, termasuk film Anak-Anak Borobudur (2007). Selain buku, televisi, dan film, ia mengaku menyukai komik dan humor, dan sangat tertarik untuk terlibat dalam dunia anak-anak.
Ia tinggal di Jakarta dengan istri yang itu-itu juga, tiga anak yang
sudah dewasa dan berkeluarga, lima cucu, ratusan lukisan \\\\\\\"kapas berwarna\\\\\\\" yang dibuatnya waktu di penjara, seperti juga sandal tato.
\\\\\\\"Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini mendekati benar, karena
kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya
menulis.\\\\\\\"