3 Cinta 1 Pria

3 Cinta 1 Pria

Author: Arswendo Atmowiloto

Category: Humor

Bong jatuh cinta pada gadis yang dipanggil Keka. Itu biasa, karena selama ini ada lelaki lain yang juga naksir Keka. Juga biasa, kalau cinta menggebu tapi sekaligus ragu tak berakhir di pernikahan. Yang tak biasa, Keka memberi nama anak perempuannya Keka juga. Ternyata Keka generasi kedua ini tertarik pada Bong, walau ia hamil dengan lelaki lain. Bong menyelamatkan bayi yang nyaris digugurkan. Bayi itu dipanggil Keka Siang, karena lahirnya siang hari. Yang tidak biasa juga, Keka Siang itu ketika remaja tertarik juga sama Bong. Sempat pacaran. (Kalau tak salah malah tinggal bersama.)

Ketika mengetahui hal ini, Keka yang sudah menjadi nenek marah besar. Sang cucu tak peduli. Bong baru tahu bahwa Keka Siang adalah bayi yang pernah ditolong saat kelahirannya, ketika bertemu kekasihnya yang sudah tua, sudah menopause, tapi masih bisa cemburu. (Kalau tak salah juga sakit-sakitan.)

Bong bertemu dengan Keka, dan saling bercerita: dulu saat mereka pacaran takut sama orangtua, lalu takut diketahui anak, kemudian sekali takut ditertawakan cucu. (Kalau tak salah tersiratkan juga persaingan, juga pilihan karena Keka generasi ketiga ini akan bunuh diri kalau tidak jadi sama Bong.)

Di antara pohon gede, ikan lele, itik, juga pohon talok, (kalau tak salah ada juga peluru), cinta menemukan bentukan ketika bisa memberi makna.

Meskipun kalau ditanyakan kepada Bong siapa nama Keka yang sebenarnya, Bong mungkin tak tahu. atau juga Keka tak tahu apakah Bong itu nama singkatan dari nama Kecebong atau Bongkaran.

Kalau tak salah, cinta memang tak menuntut atau tahu banyak atau sedikit, menikah atau berpisah, nenek atau cucu.

No. GM :
0
ISBN :
978-979-22-4074-0
Price :
Rp 40,000
Total Pages :
0 pages
Size :
13.5 x 20
Published :
16 October 2008
Format :
Softcover
Category :
Humor
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Arswendo Atmowiloto

ARSWENDO ATMOWILOTO lahir di Solo, 26 November 1948. Ia mulai menulis dalam bahasa Jawa. Sampai kini karyanya yang telah diterbitkan sudah puluhan judul. Ia sudah belasan kali pula memenangi sayembara penulisan, memenangkan sedikitnya dua kali Hadiah Buku Nasional, dan mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat nasional maupun tingkat ASEAN. Tahun 1979 ia mengikuti program penulisan kreatif di University of Iowa, Iowa City, USA. Dalam karier jurnalistik, ia sempat memimpin tabloid Monitor, sebelum terpaksa menghuni penjara (1990) selama lima tahun.
Pengalamannya dalam penjara telah melahirkan sejumlah noveltermasuk Projo dan Brojo ini, buku-buku rohani, puluhan artikel, dan catatan lucu-haru, Menghitung Hari. Judul tersebut telah disinetronkan dan memperoleh penghargaan utama dalam Festival Sinetron Indonesia, 1995. Tahun berikutnya, sinetron lain yang ditulisnya, Vonis Kepagian, juga memperoleh penghargaan serupa.
Dunia pertelevisian memang sudah menarik perhatiannya sejak ia memimpin tabloid Monitor. Karya-karyanya yang pernah terkenal seperti Kiki, Imung, Keluarga Cemara, Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Canting diangkat sebagai drama serial di televisi. Ia juga menulis buku Telaah tentang Televisi serta Mengarang Itu Gampang dan Mengarang Novel Itu Gampang yang belasan kali cetak ulang.
Ia kini masih tetap menulis skenario dan novel, sering tampil dalam seminar dan diundang ceramah, serta memproduksi sinetron dan film, termasuk film Anak-Anak Borobudur (2007). Selain buku, televisi, dan film, ia mengaku menyukai komik dan humor, dan sangat tertarik untuk terlibat dalam dunia anak-anak.
Ia tinggal di Jakarta dengan istri yang itu-itu juga, tiga anak yang
sudah dewasa dan berkeluarga, lima cucu, ratusan lukisan \\\\\\\"kapas berwarna\\\\\\\" yang dibuatnya waktu di penjara, seperti juga sandal tato.
\\\\\\\"Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini mendekati benar, karena
kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya
menulis.\\\\\\\"