Herding the Wind

Herding the Wind

Author: Sindhunata

Category: Literary

“What is the meaning of a vast, deep sea if love wishes to cross it and dive into it, my friend?” sang Anila.

The monkeys all stopped their work to dance and answer Anila’s riddle.

“The sea will become a lake and love will become a pair of golden puppets on the water’s surface. The depth of the ocean will vanish, the vastness of the sea will be crossed and the pair of golden puppets will bathe in the lake.”

“What is the meaning of two very distant lands if love wishes to unite them, my friend?” asked Cucak Rawun.

“The vast land will become but a handful of earth traversed by the wings of love. Who else, other than love, can fly like a bolt of lightning? Not just land, but even heaven can be crossed in just an instant if love flies with its wings,” answered the monkeys in response to Cucak Rawun’s song.

“What is the meaning of a high and mighty mountain if love wishes to destroy it, my friend?” Kapi Menda sang loudly and melodiously.

“The mountain will be razed to the ground and the lovers who were hiding on opposite sides of it will face each other. Even though they had been yearning for each other when they were apart, they will be shy when the mountain that had kept them apart collapses. But as the power of the mountain crumbles, their shyness will also crumble and they will embrace each other on the remains of the mountain that once separated them,” answered the monkeys.

***

Herding the Wind is a beautiful retelling from the great epic Ramayana. This book tells the story about the journey of Rama and Sita, their exile and pursuit of love. Not only recites divine characters, this book also tells about unique characters like Anoman and bajang child who bring hope and joy. Since it was first published, this book gained widely acceptance among readers.

No. GM :
619202002
ISBN :
978-602-03-2625-2
Price :
Rp 125,000
Total Pages :
432 pages
Size :
14x21cm
Published :
07 January 2019
Format :
Softcover
Category :
Literary
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Sindhunata

Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, SJ, amat dikenal karena karya sastranya yang telah menjadi klasik, Anak Bajang Menggiring Angin. Penulis yang dilahirkan 12 Mei 1952 di Kota Batu, Jawa Timur ini juga amat dikenal karena features-nya tentang kemanusiaan dan kolomnya tentang sepak bola dunia di Harian Kompas, Jakarta. Sekarang ia adalah Penanggung Jawab/ Pemimpin Redaksi Majalah BASIS, Yogyakarta. Karier jurnalistiknya dimulai dengan bekerja sebagai wartawan Majalah Teruna, terbitan PN Balai Pustaka, Jakarta, 1974-1977. Mulai tahun 1977, ia menjadi wartawan di Harian Kompas, Jakarta.

Sindhunata tamat dari Seminarium Marianum, Lawang, Malang, tahun 1970. Tahun 1980, ia selesai dengan studi sarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Kemudian ia menyelesaikan studi teologi di Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta (1983). Ia melanjutkan studi doktoral filsafat di Hochschule f?r Philosophie, Philosophische Fakult?t SJ M?nchen, Jerman 1986-1992.

Ia telah menulis buku ilmiah: Dilema Usaha Manusia Rasional, Hoffen auf den Ratu Adil–Das eschatologische Motiv des ”Gerechten K?nigs” im Bauernprotest auf Java w?hrend des 19und zu Beginn des 20 Jahrhunderts (Menanti Ratu Adil–Motif Eskatologis dari Ratu Adil dalam Protes Petani di Jawa Abad ke-19 dan awal Abad ke-20), Sakitnya Melahirkan Demokrasi (1999), dan Kambing Hitam, Teori Ren? Girard (2006). Telah terbit juga buku-buku features-nya: Cikar Bobrok dan Bayang-bayang Ratu Adil. Sindhunata juga menulis buku dalam bahasa Jawa: Aburing Kupu-Kupu Kuning, Ndh?r?k Sang D?wi ing ?r?ng-?r?nging Redi Merapi, Sumur Kitiran Kencana, dan Nggayuh Gesang Tentrem. Ia juga menjadi pengisi rubrik bahasa Jawa ”Blencong” di Harian Suara Merdeka, Semarang.

Selain Anak Bajang Menggiring Angin, beberapa karya sastranya adalah: Air Penghidupan, Semar Mencari Raga, Mata Air Bulan, Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga dan Telegram Duka. Kumpulan puisinya telah diterbitkan dalam buku Air Kata Kata (2003). Penulis rubrik ”Tanda Tanda Zaman” di Majalah BASIS ini juga telah menerbitkan buku tentang ilmu tertawa yang berangkat dari dagelan ludruk, Ilmu Ngglethek Prabu Minohek (2004) dan buku tentang filsafat slebor becak yang berjudul Waton Urip (2005). Telah terbit trilogi catatan sepak bolanya: Air Mata Bola, Bola di Balik Bulan, dan Bola-Bola Nasib (2002). Tahun 2006, features-features-nya yang dipilih dari Harian Kompas diterbitkan serentak dalam lima buku: Dari Pulau Buru ke Venezia, Segelas Beras Untuk Berdua, Ekonomi Kerbau Bingung, Petruk Jadi Guru, dan Burung-burung di Bundaran HI. Tahun 2007, penulis meluncurkan Putri Cina. Di samping menulis buku, ia menjadi editor beberapa buku ilmiah dan buku features.