Mensyukuri Kebaikan Hidup Melalui Keindahan Tenun Sumba

Show all media center
Press Release 08 November 2019
Mensyukuri Kebaikan Hidup Melalui Keindahan Tenun Sumba

Jakarta, 8 November 2019— Penerbit Gramedia Pustaka Utama resmi meluncurkan buku Tenun Sumba: Membentang Kain Kehidupan pada hari ini, Jumat (8/11), bertempat di BINHouse, Menteng, Jakarta Pusat. Buku yang ditulis Prof. drg. Etty Indriati, Ph.D. ini memaparkan berbagai museum terkemuka yang mengoleksi dan menuliskan koleksi tenun Sumba; cara pembuatan, ragam teknik, serta motif dan katalog 100 tenun koleksi dari Pau, Patawang, Rende, Kanatang, Kambera, Kaliuda, Warinding, Melolo, Kodi, Lamboya, Kapunduk, Palindi, dan Anakalang.

 

“Di Sumba saya temui beberapa kelompok tenun. Masing-masing kelompok terdiri atas sekitar 10-14 orang. Kerja sama diperlukan dalam pembuatan kain tenun Sumba, seperti halnya pembuatan batik di Jawa. Pembuatan satu kain tenun dapat melibatkan beberapa orang, meliputi orang yang meracik warna, orang yang menggambar, orang yang mengikat benang lungsi dan kalita untuk merintang warna, pemintal benang dari kapas, penenun, pembuat kabakil, dan orang yang memelintir rumbai benang di ujung kain,” tulis Prof. Etty, pada Pengantar buku.

 

“Karya seni komunal ini menggambarkan betapa sebenarnya masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi keharmonisan komunal, bukan semata-mata pencapaian individu. Kelompok pembuat tenun di Sumba pun menamakan kelompok mereka masing-masing dengan nama yang melambangkan harapan mereka. Ada yang menamakan kelompoknya Lukamba Nduma Luri, benang untuk hidup, dan ada juga yang menamakannya Pahamun Dumaluri, memperbaiki hidup. Keduanya mengandung arti dan harapan bahwa membuat tenun akan mendatangkan berkah dan kebaikan dalam hidup. Inilah yang menginspirasi saya untuk memberi judul Tenun Sumba: Membentang Benang Kehidupan,” lanjutnya.

 

Selain datang langsung ke pulau Sumba untuk melakukan penelitian, Prof. Etty juga melakukan studi pustaka dan memeriksa beberapa koleksi tenun Sumba di Museum di San Francisco dan Chicago, Amerika. Dari hasil penelitian, direncanakan akan ada tiga buku mengenai tenun Sumba. Buku Tenun Sumba: Membentang Benang Kehidupan menjadi buku kedua setelah buku pertama Beri Daku Tenun Sumba terbit pada tahun 2016.

 

“Hampir semua hasil penelitian ataupun hasil studi koleksi museum tentang wastra Sumba yang dilakukan oleh peneliti asing tidak dipublikasikan dalam bahasa Indonesia dan sulit diakses oleh orang Sumba pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Namun demikian, menelusuri pustaka tulisan orang asing tentang koleksi wastra Indonesia termasuk tenun Sumba dari berbagai museum di luar negeri membuat kita memahami makna yang tersirat di dalamnya, bahwa ada penghargaan yang tinggi atas karya budaya Sumba oleh orang-orang di negara lain,” tambah Etty.

 

Buku Tenun Sumba: Membentang Benang Kehidupan dijadwalkan mulai tersedia di toko buku dan toko buku online mulai 18 November 2019. Terbitnya buku ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai dokumentasi dan penambah referensi bagi pencinta wastra Indonesia, serta dapat menggerakkan masyarakat Sumba untuk bisa tetap menjaga pusaka, keterampilan, pengetahuan, budaya, dan tetap membuat tenun ikat dan songket dengan pewarna alam yang ramah lingkungan. (Wisnu/GPU)