Berani Mencoba Berani Berbeda!

Berani Mencoba Berani Berbeda!

Author: Tatty Elmir

Category: Fashion & Beauty

Pada tahun `80an, busana muslimah belum sesemarak sekarang. Para pemakainya sering dicap aneh dan kuno. Namun Anne Rufaidah yang Putri Remaja Indonesia tahun 1980 ini justru dengan kepala tegak dan tanpa ragu mengenakan sekaligus mempopulerkannya.

Selain kepeloporan dan konsistensinya dalam perjuangan di pentas dakwah busana muslimah, masih banyak kekayaan yang bisa kita timba dari seorang Anne Rufaidah. Ketegaran merambah dunia usaha, kegigihan berkompetisi, serta keteguhan dalam kesederhanaan, itulah antara lain yang ditebar lewat keteladanan dan karya nyata, bukan hanya dengan kata-kata.

Segala kelebihan Anne ini acap tersembunyi di balik pribadinya yang santun dan rendah hati, serta tak ingin menonjolkan diri. Menatap sang pelopor dunia mode busana muslimah ini laksana memasuki belantara senyap yang menyimpan segenap sumber daya sekaligus juga misteri. Bila diselami, the hidden forest ini ternyata penuh kejutan dari sifat dan pribadinya yang penuh potensi.

Buku yang ditulis Tatty Elmir ini hadir tanpa maksud mendikte, melainkan menjadi inspirasi yang sarat pembelajaran dari segores kecil kisah tentang Anne Rufaidah yang dimaknai sebagai catatan kearifan oleh cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat, psikolog Sartono Mukadis dan Elly Risman, praktisi pendidikan Buchori Nasution, dan banyak tokoh lain. Sebagai tambahan bagi pembaca, nikmati pula beragam desain busana muslim, kerudung, dan selendang karya Anne Rufaidah untuk berbagai suasana.

No. GM :
0
ISBN :
978-979-22-4262-1
Price :
Rp 95,000
Total Pages :
0 pages
Size :
21 x 24
Published :
22 January 2009
Format :
Softcover
Category :
Fashion & Beauty
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Tatty Elmir

Perempuan energik kelahiran 2 Juni 1963 yang juga dikenal sebagai direktur eksekutif Djakarta Public Society ini rnemiliki latar pendidikan speech therapist. Namun perjaianan hidup ibu dari lima anak ini justru lebih diwarnai dengan kesukaan menulis yang pertama kali diapresiasi publik ketika ia mulai menapaki bangku sekolah menengah atas. Selama .lebih dari 25 tahun, kehidupan membawanya menjelajah belantara perradioan, hingga televisi, film, dan periklanan sebagai jurnalis, broadcaster, maupun script writer. Semua dilakoninya \\\\\\\"hanya\\\\\\\" dengan berbekal ilmu jurnalistik dari kursus-kursus dan pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai institusi dalam dan luar negeri. Tatty pernah mendalami pelatihan radio journalism secara intern di Voice Of America, Washington DC, dan National Public Radio, sedangkan untuk televisi, dia mendapatkan materi tentang TV Production dari jaringan W HYYIKY W, Philadelphia.

Sejak masih ABG, Tatty telah mulai menjalani karier jurnalistik di surat kabar harian Haluan Padang dan Radio Arbes dengan menggunakan nama gadisnya, Tatty Fauzie Prasodjo. Perjalanan kariernya
kemudian berlanjut di Radio ARH Jakarta, Radio Suara Surabaya, dan Radio Bahana. Taty sernpat absen beberapa tahun dari dunia jurnalistik karena kesibukannya menjalankan bisnis yang sayapnya juga ada di Singapura, mengurusi berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, dan yang paling utama merawat rumah tangga. Penikmat traveling yang selalu mengatakan bahwa kehidupan adalah sekolah kearifannya ini juga sempat berlabuh selama beberapa tahun dalam Forum Sabtu Pagi, sebuah program pencerahan di Jakarta News FM yang terkenal gagah mengusung spirit demokrasi dan kemanusiaan.

Sekalipun sudah tidak lagi menerima order pembuatan iklan yang kerapdiratapinya sebagai media pembodohan umat, sesekali penulis buku The Hidden Foresf ini masih membuat story board untuk iklan layanan masyarakat. Dia juga masih membuat film film dokumenter tentang pendidikan dan kemanusiaan, serta tetap mencipta lagu. Pengalaman berkunjung dan belajar ke beberapa kantor berita, biro iklan, stasiun radio dan televisi besar dunia seperti CNN, NBC, WCBS, BBC London, dan Shadow Traffic, menambah besar keyakinannya bahwa penguasa dunia saat ini sesungguhnya adalah media. Meskipun demikian, kunjungannya ke komunitas primitif Amerika seperti komunitas Divine Tracy di Philadelphia dan suku Amish di Lancaster, memberinya pandangan berbeda.

Kehidupan mereka yang begitu damai dalam balutan kesederhanaan rang dicibir mata kosmopolit, membuatnya lebih tenteram dan percaya diri menghadapi provokasi media yang saat ini terkadang menjelma menjadi teroris gaya baru.