Untung Sabut Muhammad Sani

Untung Sabut Muhammad Sani

Author: Muhammad Sani

Category: Biography

Banyak yang bertanya kenapa buku ini diberi judul Untung Sabut. Seperti peribahasa, “untung sabut timbul, untung batu tenggelam”, begitulah perjalanan hidup saya, yang saya rasakan seperti sabut dan insya Allah, selalu timbul. Selalu ada kasih sayang-Nya kepada saya dan keluarga sehingga perjalanan karier saya selalu seperti sabut.

Dalam kamus istimewa peribahasa Melayu, memaknai “untung sabut timbul, untung batu tenggelam” berarti tidak ada orang yang dapat menghindari takdirnya, dan manusia mau tidak mau harus akur dengan takdirnya.
 


Membaca buku ini, sudah seharusnya mendorong kita untuk terus bersungguh-sungguh dan bekerja keras menjadikan semua aspek kehidupan lebih baik. Juga dapat memberi inspirasi bagi semua orang. Selamat atas terbitnya buku Untung Sabut ini. Semoga Pak Muhammad Sani terus menjadi sabut yang memberi banyak manfaat bagi masyarakat, bukan hanya di lingkungan pemerintahan, tapi juga dalam kehidupan sosial bila tiba masanya kelak beliau mengakhiri tugasnya sebagai Gubernur.

--Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri RI

Kami sama-sama menjunjung tinggi sikap kekeluargaan. Kami sama-sama pula memegang teguh etika pemerintahan dan etika bisnis. Pak Sani adalah sosok yang patut saya hormati. Semoga makna buku Untung Sabut mengilhami para calon pemimpin baik di daerah maupun di pusat.
--Erry Riyana Hardjapamekas, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi 2003–2007

Saya melihat Muhammad Sani lebih menggunakan hati dalam memimpin. Dengan konsep itu, Pak Sani sangat peduli dengan rakyat kecil.

--Inspektur Jenderal Sutarman, Kapolda Metrojaya/Mantan Kapolda Kepri

No. GM :
0
ISBN :
978-979-22-7031-0
Price :
Rp 110,000
Total Pages :
0 pages
Size :
15 x 23
Published :
26 May 2011
Format :
Softcover
Category :
Biography
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Muhammad Sani

Drs. H. Muhammad Sani lahir di Kundur, 11 Mei 1942. Ia menempuh pendidikan formal terakhir di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) di Jakarta tahun 1978–1980. Sejak tahun 2010, ia menjabat Gubernur Kepulauan Riau, dan sebelumnya menjabat Wakil Gubernur Kepulauan Riau pada tahun 2005–2010.



Berkat pengabdiannya yang tak kenal lelah bagi negara, ia telah mendapat berbagai penghargaan dari Pemerintah Pusat Republik Indonesia, yaitu Satya Lencana Karya Satya 30 tahun (1995), Satya Lencana Bintang Melati (2003), Pin Emas dari Menteri Agama RI (2003), Penghargaan Lencana Melati (2003), Satya Lencana Pembangunan (2004), Manggala Karya Kencana (2009), Bintang Tanda Jasa Pratama (2009).



Selain penghargaan dari dalam negeri, ia juga memperoleh Anugerah Sri Gemilang Presiden Pengakap (Pramuka) Melaka–Malaysia pada tahun 2007 dan Penganugerahan Gelar Tun Perak oleh DMDI Melaka–Malaysia tahun 2008.