Mahabharata

Mahabharata

Author: Nyoman S. Pendit

Category: Poetry

“Kakek yang kuhormati, aku tahu aku ini anak Dewi Kunti, bukan anak sais kereta. Tetapi, aku berutang budi kepada Duryodhana, aku hidup dan makan dari hasil bumi tanah milik Kaurawa. Aku harus jujur kepadanya dan menepati janjiku sebagai kesatria. Tidak mungkin bagiku untuk menyeberang ke pihak Pandawa sekarang. Ijinkan aku membalas jasa Duryodhana dengan jiwaku. Ijinkan aku melunasi utangku terhadap kepercayaan dan cintanya kepadaku. Engkau pasti memahami ini dan memaafkan aku. Aku mohon restumu,” kata Karna kepada Bhisma.

Bhisma memahami jiwa besar dan keluhuran budi Karna. Ia membenarkan apa yang diucapkan Karna dan berkata, “Jika memang demikian ketetapan hatimu, lakukan sebaik-baiknya. Sebab, itulah yang paling pantas kaulakukan.”


Itulah sikap yang diambil Karna sebelum maju ke padang Kurukshetra untuk bertempur melawan Arjuna, adiknya seibu. Meski tahu Kaurawa berada di pihak yang salah, Karna yang menjunjung tinggi nilai kesetiaan dan tahu membalas budi menyatakan memihak Kaurawa yang telah mengangkatnya sebagai saudara dan membesarkan namanya.

***

Dari epos India yang sangat terkenal ini, kita bisa memetik banyak pelajaran berharga tentang nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, persaudaraan, perjuangan membela kebenaran, dan kesediaan memaafkan demi kebaikan bersama. Kecuali itu, epos ini dengan jelas menggambarkan bahwa manusia yang berbudi luhur juga memiliki kelemahan; sementara yang berwatak buruk juga memiliki sisi baik. Tak ada manusia yang sempurna.

No. GM :
0
ISBN :
978-602-03-1135-7
Price :
Rp 80,000
Total Pages :
0 pages
Size :
15 X 23
Published :
04 December 2014
Format :
Softcover
Category :
Poetry
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Nyoman S. Pendit

Nyoman S. Pendit, lahir di Pulau Dewata, tepatnya di Tabanan pada tanggal 26 Juli 1927 dan menyelesaikan pendidikan terakhir di Visva Bharati University, Santiniketan, India. Penulis sangat produktif menulis buku dan artikel tentang seni budaya, falsafah, agama Hindu dan pariwisata. Disamping di kenal sebagai penulis, wartawan dan terlebih sebagai tokoh penting agama Hindu di Indonesia, pada masa perang kemerdekaan penulis ikut aktif berjuang. Pada tahun 1945-1949, penulis pernah bertugas sebagai Letnan Tentara Pelajar Sunda Kecil, Cie Staf Timur Men Ngurah Rai, dan pada tahun 1949-1954 menjadi Ketua Umum Gerakan Tentara Pelajar Pejuang Sunda Kecil. Di usianya yang sudah hampir tiga perempat abad, Nyoman S. Pendit masih bugar dan tak henti menuangkan buah-buah pikirannya di dalam berbagai tulisan.