Qiswa Unta Kesayangan Nabi Muhammad

Qiswa Unta Kesayangan Nabi Muhammad

Author: Ceng Ahmar Syamsi

Category: Religion & Spirituality

Namanya Qiswa. Seekor unta besar yang hidup di zaman baginda Nabi Muhammad saw. Sepintas, Qiswa memang tampak seperti unta pada umumnya. Berkaki empat, berbadan besar, serta memiliki punuk di atas punggungnya. Yang membuat tampak istimewa dan berbeda, karena Qiswa adalah salah satu binatang peliharaan baginda Nabi.

Qiswa merasa sedih saat para kafir Quraisy ada yang berbuat keji pada binatang, terlebih pada temannya sesama unta. Ia pun ikut menangis ketika baginda Rasulullah dianiaya, dikucilkan, bahkan diancam. Ah, andai mereka tahu, Nabi Muhamad adalah utusan Allah yang akan memberi keselamatan. Qiswa membayangkan, seandainya ia yang diciptakan sebagai manusia, ia akan menjadi orang pertama yang membenarkan perkataan baginda Nabi Muhammad.

Qiswa, seekor unta yang menjadi saksi perjuangan baginda Rasulullah saat memperjuangkan Islam. Ia pun menemani Rasulullah berhijrah ke Habasyah (Abesinia) dan Thaif, melawan kekejaman para kafir Quraisy, dan berhijrah ke Madinah hingga baginda Nabi Muhammad pun bisa kembali merebut Ka’bah dan kota Mekkah, tanah kelahirannya. Dan akhirnya bendera Islam pun bisa berkibar di bumi ini.

No. GM :
617218004
ISBN :
978-602-03-4265-8
Price :
Rp 68,000
Total Pages :
125 pages
Size :
17x22 cm
Published :
17 April 2017
Format :
Softcover
Category :
Religion & Spirituality
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Ceng Ahmar Syamsi

Ceng Ahmar Syamsi adalah nama samaran dari Aceng. Penulis kelahiran Majalengka, 13 Oktober 1987 ini mulai aktif menulis sejak 2002, namun baru serius menekuni dunia kata ini sekitar tahun 2004. Karya pertamanya berupa cerpen baru dimuat di koran lokal bulanan, Sinar Media, Majalengka pada awal tahun 2011 berjudul “Perempuan Dini Hari”. Setelah itu, cerpen berjudul “Izinkan Aku Semalam Di Tanah Rosululloh”, dan “Bulan Sudah Tenggelam”, juga dimuat di koran yang sama. Tahun-tahun berikutnya, karyanya yang lain, namun masih berupa cerpen, dimuat di sebuah koran terbitan Cirebon, Fajar Cirebon berjudul “Meski Dia Bukan Bunda”.