Bumi yang Tak Dapat Dihuni

Bumi yang Tak Dapat Dihuni

Author: David Wallace-Wells

Category: Science & Nature

”Jika Anda hanya membaca satu buku nonfiksi tahun ini, seharusnya yang ini... buku ini memaksa Anda menghadapi hal paling penting dibanding lainnya.” David Sexton, Evening Standard.

Parah. Lebih parah daripada yang Anda kira.

Tak benar kalau dibilang perubahan iklim terjadi dengan lambat, apalagi kalau dibilang tak terjadi. Dan jika kekhawatiran Anda mengenai perubahan iklim sebatas efeknya menaikkan permukaan laut, itu belum apa-apa, baru secuil dari segala kemungkinan musibah yang disebabkannya, yang bisa terjadi bahkan dalam masa hidup seorang remaja sekarang.

Selama beberapa puluh tahun belakangan, istilah “Antroposen” telah memasuki imajinasi populer—nama untuk era geologis yang kita alami, didefinisikan dengan campur tangan manusia terhadap planet ini. Namun meski Anda mungkin sadar bahwa kita telah merusak alam, dan jelas kita sudah melakukannya, siapa tahu kita justru baru memprovokasi alam, ketika dalam ketidaktahuan (awalnya) lalu ketidakpedulian (sekarang) kita membuat sistem iklim yang akan memerangi kita selama berabad-abad, barangkali sampai kita musnah. Sistem itu akan mengubah kita, merombak semua aspek cara hidup kita—planet ini bukan lagi menopang impian kemakmuran, melainkan mimpi buruk yang nyata.

“Buku yang mencekam, menakutkan, dan menohok ini barangkali adalah penjelasan terluas sejauh ini mengenai bagaimana perubahan iklim akan mengubah segala segi kehidupan kita, mulai dari di mana kita hidup, apa yang kita makan, sampai cerita yang kita sampaikan. Bacaan wajib untuk dunia kita yang makin asing dan tak terduga.” Amitav Ghosh, penulis Flood of Fire.

No. GM :
619220004
ISBN :
978-602-06-3234-6
Price :
Rp 99,000
Total Pages :
340 pages
Size :
15x23cm
Published :
23 September 2019
Format :
Softcover
Category :
Science & Nature
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
David Wallace-Wells

David Wallace-Wells ialah deputi editor majalah New York, di mana dia juga sering menulis mengenai perubahan iklim serta masa depan sains dan teknologi. Pada Juli 2017 dia menerbitkan artikel utama yang meninjau bentang skenario terburuk untuk pemanasan global yang segera menjadi sensasi, menjangkau jutaan pembaca pada hari pertama, dan dalam waktu tak sampai seminggu menjadi artikel majalah itu yang paling banyak dibaca sepanjang masa—juga memicu debat yang sampai sekarang masih berlangsung di antara para saintis dan jurnalis, mengenai bagaimana seharusnya kita berpikir dan berbicara mengenai ancaman perubahan iklim.