Menelusuri Akar Krisis Indonesia

Menelusuri Akar Krisis Indonesia

Author: Christianto Wibisono

Category: Economics & Accounting

\"Lewat buku ini Christianto akan manyadarkan kita bahwa krisis yang sekarang ini terjadi bukanlah semat-mata karena jatuhnya nilai rupiah. Bila ditelusuri, akar krisis ini sudah mulai ada sekian tahun tahun yang lalu dan terus berkembang karena proteksi sang penguasa yang menguntungkan dan memperkaya mereka. Buku ini akan memberikan masukan dan inspirasi yang tidak kecil bagi pelaku bisnis pada umunya dan bagi para pengambil keputusan di negeri ini pada umumnya.\"

No. GM :
0
ISBN :
979-655-201-9
Price :
Rp 27,500
Total Pages :
0 pages
Size :
14 x 21
Published :
01 January 1998
Format :
Softcover
Category :
Economics & Accounting
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Christianto Wibisono

Christianto Wibisono, lahir di Semarang dari orangtua Oey Koan Gwe dan Lo Tjoan Nio, generasi Tionghoa peranakan yang tidak lagi berbahasa Cina melainkan Belanda, Indonesia, dan Jawa. Pada umur 100 hari hari selamat dari pemboman Sekutu di Zaman Jepang, yang membakar dapur rumah. Tapi ia beruntung masih bisa kembali ke rumahnya. Sedang di zaman Soeharto, dua cucunya nyaris tewas oleh \\\\\\\"bom teror\\\\\\\" rezim biadab Soeharto yang menembaki mahasiswa 12 Mei dan membiarkan penjarahan, pembakaran, pembunuhan, dan pemerkosaan selama 3 hari (13-15 Mei 1998) secara keji dan tidak berperikemanusiaan. Christianto melewatkan pendidikan dasar dan menengah di perguruan Katolik; Xaverius, Domenico Savio, dan Kolose Loyola - semuanya di Semarang. Pindah ke Jakarta ketika diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FHIPK) pada tahun 1964. Berjumpa Nono Makarim dan melalui testing mengarang esei, ia menjadi aktivitas Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Sejak itu hobi dan karier serta profesi menyatu dalam dirinya yang selama 4 tahun menjadi anggota Redaksi Harian KAMI dari 1966-1970. Kembali ke kampus sejak 1974 dan menyelesaikan studi di FISIP UI tahun 1978 bersamaan dengan pembreidelan bukunya Wawancara Imajiner dengan Bung Karno. Buku ini dibreidel bersamaan dengan pembreidelan Kompas dan beberapa koran lain menjelang Sidang Umum MPR 1978. Ketika itu Dewan Mahasiswa seluruh Indonesia menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden. Tapi Soeharto melikuidasi seluruh Dewan Mahasiswa melalui Menteri P Dan K Daoed Joesoef dengan Konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).