Fotobiografi: Djoenaedi Joesoef - Senyum, Sederhana, Sukses

Fotobiografi: Djoenaedi Joesoef - Senyum, Sederhana, Sukses

Author: Arswendo Atmowiloto

Category: Biography

Pak Djoen, dalam usia di atas 70 tahun, kakek 11 cucu, adalah mata air inspirasi dunia bisnis, yang tak pernah habis. Bukan hanya bagaimana menjalankan bisnis yang berhasil, dengan cara bersih, dalam komunikasi yang fasih, melainkan inspirasi bagaimana mengelola sebuah keluarga yang utuh, hangat dan menyentuh. Namun di atas itu semua, Pak Djoen bisa memilah mana urusan keluarga dan mana urusan bisnis dengan contoh-contoh yang mudah dimengerti.

Inspirasi ini bukan hanya diwujudkan dengan ratusan produk Konimex yang mendapat kepercayaan tinggi dari konsumen, melainkan -- ini yang sangat berharga, juga dalam kehidupan pribadi yang sangat sederhana. Senyum yang menyapa lawan bicaranya menjadi berharga, membumikan teori dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa dipraktekkan, dan sikap sosial yang sejak awal dilakukan dengan diam, tanpa mengundang perhatian.

Saya bangga mendapat kesempatan berkenalan dengan Pak Djoen, mengobrol di ruang kerjanya yang nyaris tak ada kertas, jalan-jalan di mata air Bengawan Solo, atau Monaco. Saya bahagia mendengar rumusan filisofis dalam bahasa yang sangat sederhana, dan \"terdagingkan\" secara nyata.

Mata air itu adalah roh, yang masih terus mangalir.

(Arswendo Atmowiloto)

No. GM :
0
ISBN :
979-22-1154-3
Price :
Rp 150,000
Total Pages :
0 pages
Size :
24 x 27
Published :
16 March 2005
Format :
Softcover
Category :
Biography
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Arswendo Atmowiloto

ARSWENDO ATMOWILOTO lahir di Solo, 26 November 1948. Ia mulai menulis dalam bahasa Jawa. Sampai kini karyanya yang telah diterbitkan sudah puluhan judul. Ia sudah belasan kali pula memenangi sayembara penulisan, memenangkan sedikitnya dua kali Hadiah Buku Nasional, dan mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat nasional maupun tingkat ASEAN. Tahun 1979 ia mengikuti program penulisan kreatif di University of Iowa, Iowa City, USA. Dalam karier jurnalistik, ia sempat memimpin tabloid Monitor, sebelum terpaksa menghuni penjara (1990) selama lima tahun.
Pengalamannya dalam penjara telah melahirkan sejumlah noveltermasuk Projo dan Brojo ini, buku-buku rohani, puluhan artikel, dan catatan lucu-haru, Menghitung Hari. Judul tersebut telah disinetronkan dan memperoleh penghargaan utama dalam Festival Sinetron Indonesia, 1995. Tahun berikutnya, sinetron lain yang ditulisnya, Vonis Kepagian, juga memperoleh penghargaan serupa.
Dunia pertelevisian memang sudah menarik perhatiannya sejak ia memimpin tabloid Monitor. Karya-karyanya yang pernah terkenal seperti Kiki, Imung, Keluarga Cemara, Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Canting diangkat sebagai drama serial di televisi. Ia juga menulis buku Telaah tentang Televisi serta Mengarang Itu Gampang dan Mengarang Novel Itu Gampang yang belasan kali cetak ulang.
Ia kini masih tetap menulis skenario dan novel, sering tampil dalam seminar dan diundang ceramah, serta memproduksi sinetron dan film, termasuk film Anak-Anak Borobudur (2007). Selain buku, televisi, dan film, ia mengaku menyukai komik dan humor, dan sangat tertarik untuk terlibat dalam dunia anak-anak.
Ia tinggal di Jakarta dengan istri yang itu-itu juga, tiga anak yang
sudah dewasa dan berkeluarga, lima cucu, ratusan lukisan \\\\\\\"kapas berwarna\\\\\\\" yang dibuatnya waktu di penjara, seperti juga sandal tato.
\\\\\\\"Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini mendekati benar, karena
kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya
menulis.\\\\\\\"