The Tiny Travellers
The Tiny Travellers
The Tiny Travellers lahir berkat keinginan untuk “mengawinkan” hobi suami penyuka fotografi dan istri yang gemar merangkai kata. Awalnya, page The Tiny Travellers dimaksudkan sebagai semacam diary untuk mendokumentasikan petualangan dua bocah cilik mereka, tiap kali keluarga kecil ini berkesempatan menjelajah berbagai negeri. Setelah kembali menetap di Indonesia sejak 2014, mereka memilih fokus untuk memperkenalkan keindahan Zamrud Khatulistiwa kepada kedua buah hati.

Irene Dyah Respati sudah nomadik sejak lulus SMA. Setelah menamatkan kuliahnya di Jepang, Irene (dibaca Airin) sempat berkarier di Tokyo dan Jakarta. Demi mengikuti suami yang tinggal berpindah sesuai penugasan, akhirnya Irene beralih profesi menjadi ibu rumah tangga purna waktu. Sebagai penulis, Irene telah menerbitkan beberapa novel. Juga banyak menulis artikel parenting, perspektif budaya atau gaya hidup, serta liputan perjalanan untuk majalah-majalah terkemuka. Selain itu, dia memiliki beragam kegiatan dadakan, di antaranya sebagai penerjemah bahasa Jepang, writing coach, atau penari.

Mulai menulis novel sejak 2014, saat ini Irene sudah menerbitkan 7 karya. Di antaranya adalah Wheels and Heels serta Meniti Cahaya (2015), Complicated Thing Called Love, Love in Marrakech, Love in Blue City (2016). Dia berharap suatu saat novelnya difilmkan agar sang suami yang maniak film bisa menikmatinya.

Budi Nur Mukmin, seorang karyawan swasta yang beruntung memiliki kesempatan menyambangi banyak tempat di dunia. Awalnya, Budi hanya mengabadikan perjalanan keluarga dengan tujuan dokumentasi, menggunakan kamera saku dan kamera praktis. Semua berubah ketika dia dan keluarga menetap sementara di Tokyo. Keindahan 4 musim negeri Sakura menantangnya untuk menghasilkan foto yang lebih berkualitas dan dapat menyampaikan kisah. Bermodal rasa ingin tahu, Budi membeli kamera dan lensa second hand, belajar autodidak dari internet, benar-benar mempraktikkan teknik learning by doing.

Akhirnya, bermodal dua kamera DSLR yang tidak pernah dia tinggalkan, kecintaan kepada traveling dan fotografi menjadi awal dari banyak pengalaman baru. Kegigihan Budi lambat laun berbuah manis. Dia dua kali menjuarai kompetisi fotografi tingkat internasional.

Menikahi seorang penulis belum cukup untuk membuat Budi menjadi penikmat buku. Karena itu, menulis buku adalah hal yang belum pernah dia pertimbangkan sebelumnya. Namun, merangkul para pencinta buku melalui foto-foto hasil karyanya, adalah sebuah
motivasi yang tidak bisa dia kesampingkan.

Kegiatan favorit Budi pada waktu senggang adalah hunting foto, nonton film dan pertandingan bola.

Books