One-Way Ticket to Heaven

One-Way Ticket to Heaven

Author: Ateng Kusnadi

Category: Self-Improvement

Apakah Anda yakin bahwa ibadah Anda dapat mengantar Anda ke surga? Apakah Anda sudah merasa nikmat dalam beribadah kepada-Nya? Atau masih merasa terpaksa karena takut akan ancaman neraka-Nya?

Dapatkah Anda meraih bahagia dan sukses sekaligus? Dapatkah Anda sukses di dunia tapi sekaligus di akhirat? Apa beda sukses dan bahagia? Bagaimana kita bisa meraih keduanya?

Buku ini dapat membuka kesadaran Anda untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti di atas yang selama ini singgah dalam benak Anda. Berbagai kisah nyata dan hikmah menarik yang dituturkan dalam buku sangat memudahkan Anda untuk memahami kiat-kiat sukses dan bahagia, untuk mendapatkan tiket Anda menuju surga yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Inilah yang akan membedakan buku ini dari kebanyakan buku yang membahas tentang Rukun Islam--yakni dimulai dengan Haji: balasan haji yang mabrur adalah surga.

Dari situ, melalui tahapan berikut ini, Anda akan dituntun untuk menemukan rahasia sukses sejati:
+ zakat itu menyucikan harta dan jiwa: zakat bukan abu jahal, zakat bukan danamaya, dll.
+ shaum-lah, niscaya Anda akan taqwa: apa target taqwa, program 165, dll.
+ shalat--pencegah keji dan munkar: visi dan misi shalat, prinsip dasar shalat, khusyu
+ syahadatayn--penolak api neraka: syahadat sebagai fondasi, kenapa syahadat ada dua, dll.
+ akhlaqul karimah, husnul khatimah

No. GM :
0
ISBN :
978-979-22-4758-9
Price :
Rp 55,000
Total Pages :
0 pages
Size :
11x18
Published :
30 June 2009
Format :
Softcover
Category :
Self-Improvement
Tags
Jadilah yang pertama untuk mereview buku ini
Ateng Kusnadi

ATENG KUSNADI lahir di Cimahi, Bandung, pada 4 Maret 1963. Perjalanan kariernya dimulai dengan men�jadi asisten dosen di Akademi Akuntasi Veteran untuk mata kuliah Pengetahuan Dasar-dasar Komputer. Tak puas mengajar, dia mulai magang di PT Jala Sarana Komputer, Jakarta. Lalu dia ditawari pekerjaan oleh PT Sentra Perdana Selekta di Padang. Ateng bertahan dua tahun (1986-1987) di Sentra Perdana, sekalipun kariernya dengan cepat menanjak, mulai dari programer hingga manajer operasional.
Ateng kembali ke Jakarta dan tetap berkutat dalam bidang program sistem akuntansi. Dia sempat bekerja di PT Sentral Rama Informatik selama tiga tahun, lalu pada 1990 dia bekerja di Bank Tiara sebagai manajer EDP.
Pada 1995, Ateng mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.Kesempatan ini dia gunakan dengan baik. Di depan Kabah dia sempat berdoa untuk orang-orang dekatnya agar bisa pula menunaikan haji. Lalu dia menambah pintanya agar diberi jalan untuk menaikkan haji orang lain sebanyak-banyaknya.
Tak lama kemudian, seorang teman lamanya menawari dirinya untuk bergabung dengan sebuah MLM konvensional ternama. Setelah didesak, dia ikut. Lalu dalam waktu singkat dia sudah berhasil, hingga peringatan Allah itu datang. Peristiwa itu memicu tercetusnya ide pendirian MLM syariah pada September 1995. Bersama seorang temannya, Abdul Halim Said, dia merintis pendirian Ahadnet. Awalnya hanya bermodalkan niat dan semangat yang besar, serta sedikit modal dana yang disisihkan dari gaji mereka berdua.
Lalu, Ateng menyusun konsep MLM syariah. Kerja yang sedang dibangunnya ini tidaklah mudah. Dia harus bekerja keras memperkenalkan hal yang masih asing ini ke khalayak Muslim dari masjid ke masjid. Tak jarang dia masuki pula rumah-rumah makan.
Ateng selalu mendambakan sosok Nabi Muhammad saw dalam berusaha. Pikiran dan langkahnya selalu dibayang-bayangi sang idola. Nabi terakhir itu, bagi dia, merupakan sosok pengusaha yang tangguh, jujur, cerdas, amanah, dan inovatif. Dia ingat bahwa Nabi hanya memperdagangkan barang yang berkualitas dan halal. Cara berniaganya penuh kesantunan dan memuaskan.
Ateng menikah dengan Sunarni, gadis asal Boyolali, Jawa Tengah, pada 1988, dan dikarunia sepasang anak, M Abdurrahman Saleh dan Aurora Smaraning Arum. Ateng berharap Ahadnet akan terus membesar, mampu menjadi kekuatan ekonomi umat. Dan lewat Ahadnet, dia berharap bisa menghajikan orang banyak�sebagaimana doanya dulu di depan Kabah.