Seni Hidup Bersahaja
Author: Shunmyo Masuno
Category: Self-Improvement
Dengan pelajaran yang jelas, praktis, dan mudah diterapkan, Shunmyo Masuno memanfaatkan kebijakan yang telah berusia berabad-abad untuk mengajari kita menyederhanakan hidup dan menemukan kebahagiaan di tengah pusaran dunia modern.
Temukan caranya...
Bangun lima belas menit lebih dini di pagi hari dapat membuat kita merasa tidak terlalu sibuk
Menjejerkan sepatu dengan rapi setelah melepasnya dapat menertibkan pikiran kita
Mengatupkan kedua tangan dapat meredakan rasa tersakiti dan konflik
Meletakkan sendok garpu setiap kali setelah menelan makanan dapat membantu kita merasa lebih bersyukur atas apa yang kita miliki
Menanam bunga dan menyaksikannya tumbuh dapat mengajari kita untuk menerima perubahan
Pergi ke luar untuk menyaksikan matahari terbenam bisa membuat setiap hari terasa seperti perayaan
Dengan melakukannya setiap hari, kita akan belajar menemukan kebahagiaan bukan dengan mencari pengalaman luar biasa, tetapi dengan membuat perubahan kecil dalam hidup kita serta membuka diri kita pada perasaan damai dan ketenangan batin yang baru.
Dalam Seni Menyederhanakan Hidup, ia menulis: “Tanpa kehadiran air, kita masih bisa merasakan sungai pegunungan mengalir.” Baginya, tidak selalu diperlukan air untuk menyampaikan gagasan tentang mengalir.
Taman-taman itu kemudian menjadi simbol yang merepresentasikan kehidupan kita. Di satu sisi, “taman” orang lain tampak memesona dengan kolam yang cantik, fountain yang memukau, dan gerombolan ikan koi yang ginuk-ginuk. Di sisi lain, “taman”-ku garing, tidak seperti milik orang lain. Njur kepiye?
Ora piye-piye, karena memang tidak apa. Meski tanpa “unsur air”, saat kita fokus pada apa yang kita miliki, kita tetap mampu menghadirkan versi terbaik diri kita. Mbah Shunmyō seakan mengingatkan: “Kita tidak harus memiliki untuk bisa mendapatkan sesuatu. Kita tak harus kaya terlebih dahulu untuk murah hati pada sesama. Kita tidak harus jadi orang lain untuk diterima dan dicintai.”