Seni Hidup Bersahaja

Seni Hidup Bersahaja

Author: Shunmyo Masuno

Category: Self-Improvement

Dengan pelajaran yang jelas, praktis, dan mudah diterapkan, Shunmyo Masuno memanfaatkan kebijakan yang telah berusia berabad-abad untuk mengajari kita menyederhanakan hidup dan menemukan kebahagiaan di tengah pusaran dunia modern.

Temukan caranya...

Bangun lima belas menit lebih dini di pagi hari dapat membuat kita merasa tidak terlalu sibuk

Menjejerkan sepatu dengan rapi setelah melepasnya dapat menertibkan pikiran kita

Mengatupkan kedua tangan dapat meredakan rasa tersakiti dan konflik

Meletakkan sendok garpu setiap kali setelah menelan makanan dapat membantu kita merasa lebih bersyukur atas apa yang kita miliki

Menanam bunga dan menyaksikannya tumbuh dapat mengajari kita untuk menerima perubahan

Pergi ke luar untuk menyaksikan matahari terbenam bisa membuat setiap hari terasa seperti perayaan

Dengan melakukannya setiap hari, kita akan belajar menemukan kebahagiaan bukan dengan mencari pengalaman luar biasa, tetapi dengan membuat perubahan kecil dalam hidup kita serta membuka diri kita pada perasaan damai dan ketenangan batin yang baru.

No. GM :
619221056
ISBN :
978-602-06-3195-0
Price :
Rp 65,000
Total Pages :
224 pages
Size :
13,5x20 cm
Published :
08 July 2019
Format :
Softcover
Category :
Self-Improvement
Tags
vigomilandi
vigomilandi
2 years ago
Shunmyō Masuno adalah seorang biksu. Selain itu, ia juga merupakan arsitek terkemuka. Taman-taman Zen yang ia rancang dikagumi karena keindahannya. Salah satunya adalah karesansui (taman kering), yang meski tak menggunakan unsur air, tetap menampilkan pemandangan yang menawan.

Dalam Seni Menyederhanakan Hidup, ia menulis: “Tanpa kehadiran air, kita masih bisa merasakan sungai pegunungan mengalir.” Baginya, tidak selalu diperlukan air untuk menyampaikan gagasan tentang mengalir.

Taman-taman itu kemudian menjadi simbol yang merepresentasikan kehidupan kita. Di satu sisi, “taman” orang lain tampak memesona dengan kolam yang cantik, fountain yang memukau, dan gerombolan ikan koi yang ginuk-ginuk. Di sisi lain, “taman”-ku garing, tidak seperti milik orang lain. Njur kepiye?

Ora piye-piye, karena memang tidak apa. Meski tanpa “unsur air”, saat kita fokus pada apa yang kita miliki, kita tetap mampu menghadirkan versi terbaik diri kita. Mbah Shunmyō seakan mengingatkan: “Kita tidak harus memiliki untuk bisa mendapatkan sesuatu. Kita tak harus kaya terlebih dahulu untuk murah hati pada sesama. Kita tidak harus jadi orang lain untuk diterima dan dicintai.”
Shunmyo Masuno

Shunmyo Masuno adalah pendeta utama sebuah kuil Buddhis Zen yang berusia 450 tahun di Jepang, seorang perancang taman Zen yang telah memenangkan berbagai penghargaan, dan seorang profesor desain lingkungan di salah satu sekolah seni terkemuka di Jepang. Dia telah memberi kuliah di banyak tempat, termasuk di Harvard Graduate School of Design, Cornell University, dan Brown University.