Wayang dan Panggilan Manusia (2026)
Author: Franz Magnis-Suseno
Category: Philosophy, Social Sciences
Dalam wayang, kita bisa becermin tentang kehidupan dan kelakuan kita. Moral wayang merupakan moral yang konkret, dan karena itu bersifat kompleks; tidak simplistis, tidak serta-merta mengecap hitam-putih, baik-buruk, benar-salah. Moral wayang memberi kita pengertian tentang keleluasaan permasalahan, ambiguitas, dan kompleksitas hidup, serta menunjukkan problematika eksistensi dan membuka realitas secara lebih mendalam. Karena itulah, wayang begitu dekat dengan hidup kita.
Dalam buku ini, Franz Magnis-Suseno merefleksikan secara jernih dan lugas hidup manusia yang tersirat dalam wayang. Apa kita dapat seenaknya membagi manusia ke dalam mereka yang baik dan mereka yang buruk? Apakah kita sendiri termasuk Pandawa atau Kurawa, ataukah keduanya ada dalam diri kita?
Kemudian, refleksi atas Semar membawa kita ke masalah etika sosial: raja dan kesatria bersama seluruh keluhurannya ternyata tak berarti apa-apa tanpa rakyat kecil. Dengan demikian, tak ada dasar lagi bagi mentalitas pengayuh sepeda: bungkuk ke atas, tendang ke bawah. Di sini, pencarian kekuasaan atau kesaktian diletakkan dalam proporsinya.
Dan, akhirnya, digugatlah etika harmoni atau keselarasan dengan adagium, “Rukun tidak rukun asal adil”.