Tak Apa-Apa Tak Sempurna

Tak Apa-Apa Tak Sempurna

Author: Brene Brown

Category: Self-Improvement

Di dalam buku terlaris menurut New York Times yang mengguncang ini, Dr. Brené Brown mengajak kita untuk belajar menerima diri apa adanya, tidak terlalu mencemaskan “apa yang orang lain pikirkan” tentang diri kita, sehingga kita bisa lebih mencintai diri sendiri. Tidak apa-apa bila kita tidak sempurna, seperti yang lainnya. Dia mengajari cara untuk menjalani hidup dengan sepenuh hati, dengan merangkul kerapuhan dan kerentanan kita, serta menumbuhkan keberanian, belas kasih, dan keterhubungan.

Menjalani sepuluh pilar petunjuk kekuatan hidup dengan Sepenuh Hati—sebuah cara yang ditawarkan oleh Dr. Brené Brown untuk terlibat dengan dunia—akan membuat kita menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih bersyukur.

“Brené Brown dengan berani mengatasi emosi negatif yang menghalanginya untuk menjalani hidup yang lebih baik. Baca buku ini dan biarkan keberanian itu menular pada kita.” —Daniel Pink

No. GM :
620221043
ISBN :
978-602-06-4092-1
Price :
Rp 85,000
Total Pages :
248 pages
Size :
13,5x20cm
Published :
11 November 2020
Format :
Soft Cover
Category :
Self-Improvement
Aqila Zahra
Aqila Zahra
1 year ago
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan kita sering kali merasa diharuskan untuk selalu tampil tanpa cela, menyembunyikan kekurangan, dan berusaha menyesuaikan diri dengan standar yang ditetapkan oleh orang lain. Dalam proses pencarian akan kesempurnaan ini, kita sering kali melupakan kenyataan bahwa menjadi manusia berarti memiliki kelemahan, ketidaksempurnaan, dan kekurangan. Padahal kunci untuk hidup yang lebih bermakna adalah belajar untuk merangkul ketidaksempurnaan. Meskipun terlihat sederhana, pemikiran ini merupakan sebuah perjalanan yang penuh tantangan. Namun, ketika kita mampu menjalani proses itu, hidup pun bisa terasa lebih ringan dan lebih bermakna.
Salah satu karya yang membahas dengan mendalam tentang pentingnya melepaskan pencarian akan kesempurnaan dan merangkul ketidaksempurnaan ini adalah sebuah buku “The Gift of Imperfection ” karangan Brené Brown seorang penulis, peneliti, dan pembicara asal Amerika Serikat kelahiran 1965 yang terkenal karena karyanya di bidang kerentanan, keberanian, harga diri, dan empati. Ia berhasil menjadi penulis enam buku terlaris #1 New York Times diantaranya “The Gift of Imperfection ,” lahir dari perjalanan pribadi dan profesional Brown ketika ia mendalami bagaimana rasa malu, ketakutan dan ketidaksempurnaan memengaruhi kehidupan manusia.Transformasi Brown terlihat ketika meneliti tentang rasa malu ia menyadari bahwa hidupnya sendiri dipenuhi dengan perjuangan untuk menjadi “sempurna.” Hal ini memicunya untuk menjalani “breakdown spiritual” yang membuat dirinya menghadapi ketidaksempurnaan dan menyadari pentingnya penerimaan diri. Buku ini terjual lebih dari 2 juta eksemplar di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa, salah satunya dialih bahsakan ke dalam bahasa Indonesia yang diberi tajuk “Tak Apa-Apa Tak Sempurna”
Buku “Tak Apa-Apa Tak Sempurna” oleh Brené Brown berfokus pada bagaimana menerima ketidaksempurnaan diri, menjalani hidup dengan sepenuh hati (Wholehearted Living), melepaskan rasa malu dan perfeksionisme. Brown mendefinisikan hidup sepenuh hati sebagai cara hidup yang didasarkan pada keberanian, belas kasih, dan koneksi. Dalam buku ini Brown mengembangkan sepuluh panduan untuk hidup sepenuh hati yang menjadi inti dari buku ini. Setiap panduan disertai penjelasan mendalam dan langkah-langkah praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sepuluh panduan yang ia sebut sebagai “tiang petunjuk ” berisi arahan untuk melepaskan apa yang dipikirkan orang lain, belajar menerima bahwa menjadi manusia berarti tidak sempurna, mengatasi tantangan hidup dengan keberanian serta rasa syukur, melihat kerentanan sebagai kekuatan untuk menciptakan koneksi dengan orang lain, menghargai momen-momen kecil dalam hidup, fokus pada kemajuan, mendengarkan intuisi sebagai panduan dalam menghadapi ketidakpastian hidup, membuka diri untuk berekspresi tanpa rasa takut akan penilaian, membangun hubungan yang autentik, dan meluangkan waktu untuk membebaskan diri dari kesibukan yang tidak perlu. Brené Brown menekankan bahwa kerentanan adalah kunci untuk menjalani hidup yang penuh makna. Ia juga mengeksplorasi bagaimana rasa malu sering kali menjadi penghalang utama bagi keberanian, dan memberikan strategi untuk mengatasinya.
Setiap bab dalam buku ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk mengaplikasikan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Brown menggunakan kombinasi kisah pribadi, penelitian, dan refleksi untuk membuat pembaca merasa terhubung dengan pesan-pesannya. Buku ini didasarkan pada penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh Brené Brown, sehingga isi dan rekomendasinya memiliki dasar ilmiah yang kuat. Brené juga menggunakan bahasa yang personal, seperti berbicara dengan seorang teman sehingga banyak pembaca merasa terhubung dengan cerita dan pengalaman pribadinya.
Adapun di dalam buku ini mengandung unsur pendekatan naratif dan cerita pribadi Brown yang mungkin terasa terlalu subjektif atau kurang struktural bagi pembaca yang lebih suka gaya penulisan akademis atau langsung ke inti masalah. Buku ini lebih cocok untuk pembaca yang menikmati refleksi dan cerita inspiratif. Bagi mereka yang lebih suka pendekatan teknis atau berbasis metode spesifik, buku ini mungkin terasa kurang sistematis. Pembaca yang kurang familiar dengan konsep kerentanan atau merasa sulit untuk terbuka mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk memahami dan menerapkan isi buku ini.
Buku “Tak Apa-Apa Tak Sempurna” mengajarkan bahwa hidup yang sepenuhnya bermakna tidak didasarkan pada pencapaian atau kesempurnaan, tetapi pada keberanian untuk menjadi diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan menjalin hubungan yang autentik dengan orang lain. Secara keseluruhan buku ini sangat cocok bagi mereka yang ingin memahami pentingnya kerentanan, meninggalkan perfeksionisme, dan menjalani kehidupan dengan sepenuh hati. Namun, efektivitasnya tergantung pada gaya belajar dan kebutuhan pembaca.