Tak Apa-Apa Tak Sempurna (2024)
Author: Brene Brown
Category: Self-Improvement, Lomba Ulasan Sewindu Bincang Buku
Di dalam buku terlaris menurut New York Times yang mengguncang ini, Dr. Brené Brown mengajak kita untuk belajar menerima diri apa adanya, tidak terlalu mencemaskan “apa yang orang lain pikirkan” tentang diri kita, sehingga kita bisa lebih mencintai diri sendiri. Tidak apa-apa bila kita tidak sempurna, seperti yang lainnya. Dia mengajari cara untuk menjalani hidup dengan sepenuh hati, dengan merangkul kerapuhan dan kerentanan kita, serta menumbuhkan keberanian, belas kasih, dan keterhubungan.
Menjalani sepuluh pilar petunjuk kekuatan hidup dengan Sepenuh Hati—sebuah cara yang ditawarkan oleh Dr. Brené Brown untuk terlibat dengan dunia—akan membuat kita menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih bersyukur.
“Dr. Brené Brown dengan berani mengatasi emosi negatif yang menghalanginya untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Baca buku ini dan biarkan keberanian itu menular pada kita.” —Daniel Pink
Buku ini merupakan hasil riset seorang profesor terhadap kehidupan Sepenuh Hati. Ia menawarkan 10 tiang petunjuk untuk menjalaninya dimana komponennya terdiri dari hal-hal remeh yang kerapkali kita sepelekan, seperti rasa syukur, kreativitas, tawa, nyanyi, dan menari. Hal-hal tersebut menyiratkan makna yang cukup mendalam walaupun kita merasa skeptis terhadapnya. Kok bisa sih printilan-printilan kecil itu berpengaruh dalam perjalanan hidup yang Sepenuh Hati?
Di dalamnya, terdapat cukup banyak kisah orang-orang yang menjalani kehidupannya dengan Sepenuh Hati, dari berbagai kalangan, termasuk penulis sendiri. Pembahasannya cukup mudah untuk dipahami sebab ditulis dengan menggunakan gaya bahasa yang santai. Hal ini mendukung tujuan penulis untuk mengajak para pembaca untuk merasa tak apa-apa tak sempurna, tak apa-apa menjadi manusia yang konyol, kerjakan apa yang ingin kamu lakukan, ceritakan apa yang ingin kamu sampaikan, rasakan kerentananmu, tanpa membuat pembaca merasa dihakimi, "Lihat, aku pun memiliki kerentanan. Kita semua berhak untuk menjalani kehidupan Sepenuh Hati. Jangan takut!". Namun, terdapat beberapa kosa kata yang terasa kurang pas ketika dibaca, sepertinya karena kurangnya kosa kata Bahasa Indonesia yang sepadan dengan kosa kata bahasa asli buku tersebut. Meskipun begitu, hal itu tak menghilangkan esensi dari tujuan ilmiahnya sebagai buku panduan Hidup Sepenuh Hati.
Pokok dari terciptanya buku ini adalah untuk memberitahu kita bahwa inti dari perjalanan kehidupan yang Sepenuh Hati adalah dengan memeluk otentisitas diri, merangkul kerentanan diri, dan menyambung keterhubungan diri dengan berbagai aspek. Ketiga hal tersebut dapat terlaksana jika kita berusaha menerapkan petunjuk yang ditawarkan penulis dan kita akan menjadi manusia yang bahagia sebab hidup dengan Sepenuh Hati.
"Jalani kehidupan yang ingin kita jalani, bukan kehidupan yang kita anggap "harus" kita jalani".
Buku ini tidak sembarang tercipta, ia melalui proses yang panjang hingga kita dapat membacanya sehingga ia sangat layak untuk dijadikan rekan, terkhususnya untuk orang-orang sepertiku yang merasa sering kekurangan dan membandingkan diri dengan orang lain dalam jangka waktu yang cukup lama. You need to read this!
Meski begitu, saya cukup mengerti. Diri yang terasa mengecil, ciut dan malu dengan ucapan-ucapan orang, baik yang sifatnya menyinggung kemampuan dan ketidakberdayaan kita menghadapi situasi yang terpojok. Seolah kita terpaksa mengucapkan, "iya", "baiklah", atau semacamnya. Buku ini beruntungnya cukup baik dalam menghantarkan tips praktikal dengan didorong cerita-cerita baik hasil riset, maupun pengalaman penulis.
"Perasaan malu membutuhkan tiga hal untuk tumbuh lepas kendali di dalam hidup kita : kerahasiaan, ke-diam-an, dan penghakiman. Ketika sesuatu yang memalukan terjadi dan kita menguncinya, ia akan beranak-pinak dan tumbuh. Ia akan memakan kita. Kita perlu membagikan pengalaman kita." - hlm. 66.
Dengan begitu, penerimaan diri, welas asih, dan dukungan lingkungan berada amat penting untuk melalui proses-proses ini. Tabik.
Dalam buku ini, Dr. Brené membagikan pengalaman hidupnya yang menunjukkan bagaimana ia berdamai dengan ketidaksempurnaan yang terjadi dalam hidupnya. Untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan itu, Dr. Brené selalu menekankan untuk menjalani hidup dengan sepenuh hati, dimulai dari mengenal dan memahami diri sendiri hingga menumbuhkan rasa cinta kepada diri kita sendiri. Melalui buku ini, Dr. Brené juga mengajarkan agar kita selalu memeluk dan mengakui semua ketakutan dan ketidakmampuan yang ada pada diri kita. Menurutnya, hal ini berguna untuk mendorong diri kita untuk bergerak maju, dan juga dengan merangkul ketakutan dan kelemahan diri akan membantu kita menemukan nilai dan keunggulan lain yang ada di dalam diri kita.
Buku ini memiliki penyajian yang sangat baik, terutama pada petunjuk yang diberikan oleh Dr. Brené untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan. Petunjuk yang diberikan oleh Dr. Brené menurut saya sangat sesuai dengan problematika yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk melepaskan diri dari apa yang orang lain pikirkan kita bisa menumbuhkan keautentikan diri, perfeksionisme bisa dilepas dengan menumbuhkan belas kasih diri, kita bisa selalu menumbuhkan kreativitas untuk mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, menumbuhkan rasa syukur dan kebahagiaan, menumbuhkan ketenangan diri agar terlepas dari perasaan cemas yang sering kali hadir dalam hidup kita, serta masih banyak petunjuk lainnya yang sesuai dengan realitas dalam kehidupan manusia.
Buku ini sangat relevan dengan kondisi sebagian besar manusia masa kini. Saat ini, dimana zaman semakin modern mengakibatkan tuntutan kepada manusia semakin melonjak tinggi. Hal ini tentulah membuat manusia masa kini ingin terus melakukan yang terbaik bahkan hingga ingin menjadi manusia yang sempurna. Namun perlu kita ingat bahwa ketidaksempurnaan merupakan sifat alamiah manusia. Sehingga untuk membantu kita untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan tersebut tanpa mengurangi value diri kita, membaca buku karya Dr. Brené dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu langkah yang sangat tepat.
Kemudian…
"Perfeksionisme bersifat menghancurkan diri karena pada dasarnya tidak ada hal yang sempurna. Kesempurnaan itu adalah sebuah tujuan yang tidak bisa dicapai."
Gitu kata buku ini, salah satunya. Habis berlembar-lembar halaman buku ini dibolak-balik, aku baru sadar kalau pandanganku yang satu itu ternyata gak sehat.
Tak Apa-Apa Tak Sempurna lahir dari keterkejutan Brene Brown, sang penulis buku, atas data-data risetnya yang menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau belum berhasil untuk hidup dengan “benar”. Penulis menemukan bahwa kecenderungan kita buat menata hidup dengan sempurna, ternyata adalah hal yang bikin hari-hari kita justru dipenuhi dengan kecemasan. Faktanya, hidup sempurna itu adalah sesuatu yang gak mungkin, jadi yang kemungkinan dilakukan hanyalah berpura-pura cukup sempurna untuk bisa diterima dalam standar tinggi masyarakat.
Setelah diamati lebih lanjut, beliau merumuskan bahwa jadi gak sempurna itu sebenarnya adalah berkah buat manusia. Kata Brene, “karena kita manusia dan tidak sempurna dengan indahnya,” kita bisa dituntun buat menumbuhkan keberanian kita, perasaan belas kasih, dan keterhubungan, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, yang merupakan elemen penting untuk menerima dan menjalani hidup dengan ikhlas, sepenuh hati.
Buatku, buku ini jadi penutup manis di akhir tahun 2024, dan pembuka yang tepat buat menyambut 2025. Keseluruhan isi buku ini ngajarin aku untuk melihat hidup dari perspektif lain yang lebih baik buat diri sendiri. Bahwa semua kecemasan atas kegagalan yang aku rasain, semua hal yang bikin terlalu takut untuk keluar dari zona nyamanku, ternyata punya solusinya dan bisa kok diatasi. Jujur dalam bukunya, Brene gak secara gamblang merunutkan daftar caranya. After all, "cara" itu unik bagi setiap orang. Instead, beliau membagikan hasil pengamatannya, juga membagikan cerita pengalamannya yang, walaupun beda status sosial, ntah gimana bisa relate banget dengan emosi sehari-hari aku. Se-simple beliau cerita pernah malu karena salah ketik nama penulis pas lagi saling kirim email pun, jadi aku yang ikutan malu haha Ini yang bikin esensi bukunya jadi mudah untuk dipahami.
Brene Brown ngebiarin kita untuk hanyut dalam tulisannya, dan memetik mana "cara" yang kita butuhkan dan cocok untuk diri kita masing-masing. Dalam buku ini, beliau juga membagikan tiang-tiang penunjuk supaya kita bisa mempraktikkan apa yang kita dapat dari buku ini. Menurutnya, praktik adalah kunci. Ini adalah metode yang bikin aku bisa belajar pelan-pelan, dan faktor yang membuat buku ini juga bisa berfungsi sebagai pedoman. Tapi kayaknya buat orang-orang yang butuh solusi cepat, mungkin pace buku ini bakal terasa lambat dan terkesan berulang-ulang.
Aku bisa bilang buku ini cocok banget buat aku, kamu, yang hilang arah dan tujuan tentang hidup. Buat kita, yang mau memperbaiki diri. Buku ini bisa menyadarkan kita, bahwa jadi biasa aja pun gak apa-apa kok. Bahwa kita muncul, ada, dan berusaha untuk tetap hidup di dunia ini pun udah merupakan hal yang luar biasa berharga yang bisa seorang manusia lakukan buat dirinya sendiri.
"Kehidupan yang dijalani dengan sepenuh hati adalah soal terlibat di dalam hidup dari posisi kepantasan diri. Ini soal menumbuhkan keberanian, belas kasih, dan keterhubungan untuk bangun pagi dan berpikir, terlepas dari apa pun yang telah diselesaikan dan belum diselesaikan, saya ini memadai."
31 Desember 2024
Btw, cover barunya filosofis banget, simple tapi sarat akan makna, memang cocok dan sesuai dengan judul dan isi dari buku ini. Ilustrasi cover-nya memuat pesan tersirat bahwa kita sebagai makhluk yang katanya paling sempurna pun punya cela dan itu oke-oke aja, seperti langit biru yang tidak selalu cerah dan punya mendung gelap, yang keberadaannya justru lebih bermakna dengan ketidaksempurnaannya.
Sayangnya, cover imut ini membuatku terkecoh. Kukira, buku ini akan memotivasi dengan pembawaan yang ringan, jadi aku lumayan kaget saat membaca tulisan Mrs. Brown yang formal dan ilmiah ini untuk pertama kalinya. Aku menyayangkan pergantian cover-nya karena rasanya cover simple dengan tulisan ber-font tajam itu lebih sesuai dan bisa meng-highlight gaya bahasa formal dan ilmiah di dalamnya.
Namun, terlepas dari semua itu, sekurang-kurangnya Mrs. Brown berhasil membelajarkanku tentang bagaimana ketidaksempurnaan itu menjadi bagian dari hidup yang tidak perlu terlalu dipermasalahkan melalui pengalaman pribadi dan hasil riset. Rasanya seperti membaca modul materi perkuliahan tapi dengan gaya bahasa yang sedikit lebih interaktif dan persuasif.